Jawa Pos Radar Madiun - Nama Permadi Arya, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Janda, kembali menjadi buah bibir nasional.
Tak hanya karena argumennya yang tajam, tapi juga aksi terbarunya yang diusir dari sebuah acara talkshow televisi nasional pada Selasa (10/3).
Di balik deretan kontroversinya, siapa sebenarnya sosok pria kelahiran Cianjur ini?
Baca Juga: Harga Bensin Melonjak Tajam, Hampir Separuh Warga Amerika Serikat Salahkan Trump
Pendidikan Mentereng di Luar Negeri
Banyak yang tidak menyangka bahwa pria kelahiran 14 Desember 1973 ini memiliki latar belakang pendidikan yang cukup solid di bidang teknologi dan bisnis.
Permadi tercatat pernah menempuh pendidikan di luar negeri pada akhir era 90-an.
Ia meraih gelar Diploma Ilmu Komputer dari Informatic IT School di Singapura pada tahun 1997.
Tak berhenti di situ, ia melanjutkan studi ke Britania Raya dan berhasil meraih gelar di bidang Business & Finance dari University of Wolverhampton, Inggris pada tahun 1999.
Transformasi Karier dari Perbankan ke Industri Tambang
Sebelum terjun ke dunia media sosial dan menjadi influencer politik, Heddy Setya Permadi (nama aslinya) adalah seorang profesional di berbagai sektor industri.
Perjalanan kariernya membentang dari sektor keuangan hingga energi.
Selama periode 1999 hingga 2015, ia tercatat pernah berkarier di:
Perusahaan Sekuritas dan Bank Swasta.
Perusahaan Tambang Batu Bara (salah satu sektor yang sempat digelutinya cukup lama).
Baru pada menjelang Pemilihan Presiden 2019, sosoknya muncul ke permukaan sebagai bagian dari tim pendukung Joko Widodo.
Langkah politik itu kemudian melambungkan namanya sebagai pegiat media sosial dengan pengikut jutaan sekaligus pengkritik keras kelompok radikalisme.
Baca Juga: Debat Panas Abu Janda vs Ikrar Nusa Bhakti di Televisi Viral, Begini Kontroversinya
Misteri Kehidupan Pribadi
Meski sangat vokal di media sosial mengenai isu-isu kebangsaan, intoleransi, hingga kebijakan pemerintah, Abu Janda termasuk orang yang tertutup soal keluarga.
Informasi mendetail mengenai istri dan anak-anaknya jarang diumbar ke ruang publik.
Di usianya yang kini memasuki awal 50-an, ia tetap memilih menjaga privasi keluarganya di tengah gempuran sorotan tajam netizen.
Magnet Polemik Digital
Kini, karier utamanya adalah sebagai content creator dan kritikus media sosial.
Meski latar belakang pendidikannya berada di jalur bisnis dan komputer, ketertarikannya pada isu agama dan politik justru yang paling sering membuatnya "bertabrakan" dengan tokoh-tokoh.
Mulai dari akademisi senior hingga pakar hukum—seperti yang baru-baru ini terjadi di layar kaca.
Bagi pendukungnya, ia adalah suara keberanian melawan intoleransi. Namun bagi pengkritiknya, ia dianggap sebagai sosok yang kerap melampaui batas etika komunikasi di ruang publik. (naz)
Editor : Mizan Ahsani