Jawa Pos Radar Madiun - Nama Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto berada di pusaran badai opini publik.
Sosok yang sebelumnya viral karena menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai potensi maling berkedok gizi, kini justru berbalik diserang dengan narasi maling berkedok aktivis.
Serangan balik ini mencuat di media sosial lewat klaim bahwa dana bantuan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) diduga mengalir ke rekening pribadinya.
Baca Juga: Resep Lumpia Surabaya untuk Jajanan Lebaran, Ternyata Ini Bedanya dengan Versi Semarang
Dari Pengkritik Menjadi Sasaran Tembak
Tiyo sebelumnya dikenal vokal menyoroti kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN). Ia mengkhawatirkan program MBG bakal menjadi ladang korupsi jika pengawasannya lemah.
Namun, keberaniannya itu kini dibalas dengan sorotan tajam terhadap kehidupan pribadinya.
Munculnya isu dana KIP Kuliah di rekening pribadi Tiyo menjadi senjata bagi pihak-pihak yang kontra terhadap kritiknya.
Sebagian warganet menggunakan narasi ini untuk meruntuhkan kredibilitas Tiyo sebagai kontrol sosial.
Membedah Aliran Dana KIP Kuliah
Perlu digarisbawahi, secara mekanisme, dana KIP Kuliah memang disalurkan langsung ke rekening mahasiswa penerima untuk biaya hidup.
Oleh karena itu, adanya dana masuk ke rekening pribadi tidak serta merta menjadi bukti penyelewengan.
Hingga saat ini, belum ada temuan resmi atau pernyataan dari pihak UGM maupun pengelola program KIP Kuliah yang menyatakan adanya pelanggaran prosedur yang dilakukan oleh Tiyo.
Semua narasi yang berkembang masih sebatas klaim di ruang digital.
Baca Juga: Seleksi CPNS dan PPPK 2026 Kian Nyata, Instansi Wajib Setor Usulan Formasi di Akhir Maret
Fenomena Character Assassination?
Pengamat menilai, fenomena yang menimpa Ketua BEM Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto adalah risiko klasik bagi aktivis vokal.
Ketika kritik yang disampaikan sulit dipatahkan secara substansi, integritas pribadi si pengkritik seringkali menjadi sasaran tembak untuk didelegitimasi.
Publik kini menantikan klarifikasi resmi, baik dari pihak kampus UGM maupun dari Tiyo Ardianto sendiri, guna memutus spekulasi yang kian liar.
Dalam ruang demokrasi, kejujuran fakta harus lebih tinggi dibanding viralnya sebuah narasi tanpa dasar hukum yang jelas. (naz)
Editor : Mizan Ahsani