Jawa Pos Radar Madiun - Arus pergerakan pemudik pada pekan Lebaran 2026 ini mulai menunjukkan eskalasi.
Bagi pemudik asal Jakarta yang keluar via Exit Tol Pejagan menuju jalur lintas tengah dan selatan Jawa Tengah (Jateng) hingga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), jalur dipastikan aman dengan tingkat kemantapan jalan mencapai 94,20 persen.
Kepastian tersebut disampaikan oleh Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah 1 Jateng M. Syidik Hidayat.
Menurutnya, koridor yang mengarah ke Cilacap, Purwokerto, Banyumas, hingga Kebumen ini merupakan simpul utama yang selalu menjadi primadona pemudik setiap tahunnya.
"Kami memantau titik-titik krusial. Rekayasa lalu lintas seperti one way (satu arah) akan diberlakukan secara kondisional jika terjadi penumpukan, terutama di titik bottleneck seperti Dermoleng dan Pasar Linggapura," terang Syidik di Posko Mudik Bumiayu.
Menjawab keresahan masyarakat soal Tanjakan Klonengan yang kerap memicu antrean kendaraan panjang, Syidik menggaransi bahwa secara teknis struktur jalan tersebut sangat layak dilintasi.
Namun, alat berat dan personel tetap disiagakan di lokasi sebagai antisipasi jika ada kendaraan darurat yang gagal menanjak.
Baca Juga: Hasil Lengkap Final Swiss Open 2026: China Dua Gelar, Indonesia Gigit Jari
Sementara itu, Kepala Bidang Preservasi I BBPJN Jateng-DIY Fajar Triawan menegaskan bahwa seluruh pekerjaan konstruksi di sepanjang 1.888,69 kilometer jalan nasional tersebut telah dihentikan total sejak 11 Maret lalu.
"Secara operasional, konstruksi berhenti agar tidak menghambat arus lalu lintas. Tapi untuk pemeliharaan, jika tiba-tiba ditemukan jalan berlubang, tim kami akan langsung melakukan penanganan cepat di lapangan," papar Fajar.
Guna memitigasi anomali cuaca dan bencana alam, BBPJN turut memetakan 23 titik rawan di Jateng yang mencakup 14 lokasi rawan banjir dan 9 area rawan longsor.
Alat berat Disaster Relief Unit (DRU) juga telah disebar ke sejumlah titik strategis seperti Pekalongan, Karangjati, Yogyakarta, dan Buntu (jalur selatan) untuk merespons kondisi darurat secara real-time. (*)
*Sayiddil Akbar Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani