Jawa Pos Radar Madiun - Kepadatan kendaraan pemudik yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa via Pelabuhan Gilimanuk, Bali, menjadi atensi krusial pemerintah.
Antrean panjang yang didominasi oleh pengendara roda dua dan mobil pribadi ini terus diurai dengan berbagai langkah taktis.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan, pihaknya telah menginstruksikan Wakil Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Darat untuk turun langsung mengeksekusi penguraian di lokasi sejak Senin (16/3).
"Kami mendorong percepatan operasional di lapangan untuk mempercepat penguraian kendaraan di kawasan Gilimanuk, sehingga mobilitas masyarakat tetap terlayani dengan baik," tegas Menhub Dudy di Jakarta.
Baca Juga: Kapan Idul Fitri 2026? Muhammadiyah Tetapkan Lebaran 1447 H Jatuh pada 20 Maret
Guna memecah penumpukan pemudik secara masif, Kemenhub memompa kapasitas angkut dengan mengerahkan total 35 unit kapal melalui pola pelayanan delapan trip.
Armada ini didistribusikan secara optimal, yakni 19 kapal bersandar di dermaga Moveable Bridge (MB), 11 kapal di dermaga Landing Craft Machine (LCM), serta tambahan armada perbantuan lainnya.
Baca Juga: Link Live Streaming Chelsea vs PSG Liga Champions 2026, The Blues Kejar Keajaiban di Stamford Bridge
Tak hanya mengandalkan penambahan kapal, petugas di lapangan juga menerapkan skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB).
Kebijakan ini sukses memangkas waktu sandar, mempercepat rotasi kapal, sekaligus melancarkan proses kanalisasi untuk kendaraan kecil.
"Pengaturan lalu lintas kendaraan juga diperkuat melalui pengoperasian buffer zone (kantong parkir) di terminal kargo Gilimanuk, serta optimalisasi fungsi UPPKB Cekik sebagai titik pengendalian sebelum memasuki kawasan pelabuhan," imbuhnya.
Kabar baiknya, manuver penguraian macet ini direstui oleh kondisi alam. Merujuk data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), perairan Selat Bali terpantau sangat kondusif untuk aktivitas pelayaran angkutan Lebaran.
Cuaca dilaporkan berawan dengan tinggi gelombang rendah di kisaran 1 meter, jarak pandang mencapai 10 kilometer, dan arus air yang bersahabat. (*)
*Sayiddil Akbar Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura