Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah riuhnya panggung politik dan panasnya kritik sosial, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, memilih jalur yang lebih sunyi namun mendalam: puisi.
Lewat karya berjudul “Orang Baik”, Tiyo tidak sedang berteriak di depan pengeras suara.
Ia memilih mengetuk pintu nurani yang sering kali tertidur di tengah kepungan ambisi dan kekuasaan. Ini bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah manifestasi perlawanan sunyi.
Puisi: “Orang Baik” – Karya Tiyo Ardianto
Orang baik, orang baik Tak akan terluka karena kebaikan Mustahil kebaikan dikalahkan oleh kejahatan
Orang baik memancarkan cahaya Menerangi batin orang-orang baik lainnya Saling menguatkan dalam diam
Sementara orang jahat silau Terang yang ia ciptakan sendiri Justru membutakan nuraninya
Mereka yang sepanjang usia memperjuangkan hal mulia Harus rela tak mendapatkan apa-apa di dunia Namun tetap memilih untuk tidak menjadi kejam
Karena orang baik tidak akan tega Sekalipun dunia mengajarkan untuk menjadi sebaliknya.
Baca Juga: 5 Waktu Mustajab Berdoa di Bulan Ramadan, Lengkap dengan Dalil dan Kumpulan Doa
Analisis: Sebuah Perlawanan Tanpa Amarah
Salah satu bait yang paling menyentak berbunyi: “Orang baik tak akan terluka karena kebaikan mustahil dikalahkan oleh kejahatan.”
Kalimat ini menyimpan keberanian besar. Di saat banyak orang memilih bersuara keras agar didengar, Tiyo memilih diksi yang halus namun "berbisa" untuk menyadarkan.
Realitas Pahit: Kebaikan yang "Tak Mendapatkan Apa-Apa"
Puisi ini tidak sedang menjual janji manis atau optimisme kosong. Tiyo justru menyoroti kenyataan pahit yang sering kita saksikan hari ini:
-
Kejujuran yang sering kali tumbang oleh kepentingan.
-
Integritas yang kalah telak oleh syahwat kekuasaan.
-
Kebaikan yang justru kerap dianggap sebagai sebuah kelemahan.
Bait “Harus rela tak mendapatkan apa-apa di dunia” adalah tamparan bagi realitas sosial.
Ini adalah pengakuan jujur bahwa dunia memang tidak selalu adil, namun menjadi kejam bukanlah sebuah pilihan bagi mereka yang memegang teguh prinsip.
Baca Juga: Diserang Isu Dana KIP Usai Kritik Pemerintah, Ketua BEM UGM: Saya Tidak Takut
Simbol "Cahaya" vs "Silau" Kekuasaan
Tiyo secara cerdas membedakan antara Cahaya dan Silau.
-
Cahaya: Simbol ketulusan yang menerangi batin sesama tanpa perlu dipamerkan.
-
Silau: Sindiran tajam untuk mereka yang berada di puncak kekuasaan namun kehilangan arah. Terlalu terang oleh kemilau jabatan hingga membutakan penglihatan terhadap kebenaran di akar rumput.
Penutup: Kebaikan Sebagai Bentuk Perlawanan Tertinggi
Pada akhirnya, “Orang Baik” bukan sekadar karya sastra. Ia adalah sebuah Sikap.
-
Sikap untuk tetap tegak saat dunia tidak berpihak.
-
Sikap untuk tetap menjaga nurani, meski harus berjalan seorang diri.
Melalui puisi ini, Tiyo Ardianto seolah berpesan: Kebaikan mungkin tidak selalu menang di atas kertas atau panggung dunia, tetapi ia tidak akan pernah benar-benar kalah di hadapan sejarah dan Tuhan.
Saran Redaksi: Karya ini mengingatkan kita semua bahwa di balik setiap gerakan massa, harus ada dasar moral yang kuat agar perjuangan tidak kehilangan ruhnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani