Jawa Pos Radar Madiun - Dalam lanskap gerakan mahasiswa nasional tahun 2026, nama Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, muncul sebagai anomali yang berani.
Ia bukan sekadar figur simbolik di menara gading akademik; Tiyo telah menjelma menjadi representasi aktivisme yang tajam, analitis, dan kerap berdiri berseberangan dengan arus kekuasaan.
Sejak awal mandatnya, Tiyo memilih untuk tidak mengambil jalan aman. Ia berdiri di garis depan untuk mempertanyakan kebijakan yang dianggap mencederai rasa keadilan publik.
Aktivis yang Tidak Takut "Naik Level"
Berbeda dengan pola gerakan konvensional yang sering terjebak dalam romantisme diskusi internal, Tiyo membawa isu kerakyatan ke level diskursus nasional. Fokusnya konsisten dan terukur:
-
Sektor Pendidikan: Menolak komersialisasi dan pemotongan anggaran.
-
Kesejahteraan Rakyat: Menyoroti kebijakan ekonomi yang membebani kelas bawah.
-
Transparansi Anggaran: Membedah alokasi dana publik secara terbuka.
Baca Juga: Resep Rendang Daging Empuk untuk Sajian Lebaran, Bumbu Meresap hingga ke Dalam
Langkah Berani: Keluar dari Aliansi BEM SI
Salah satu keputusan paling kontroversial namun prinsipil adalah ketika BEM UGM di bawah kepemimpinannya memilih keluar dari BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan. Tiyo menegaskan bahwa independensi adalah harga mati.
Bagi Tiyo, gerakan mahasiswa tidak boleh menjadi "gerbong" yang terikat pada kepentingan politik praktis atau aliansi yang mulai kehilangan arah.
Meski dikritik memecah kekuatan nasional, ia lebih memilih kemurnian suara mahasiswa daripada kompromi yang semu.
Kritik Program MBG: Menyoroti Anggaran Raksasa
Tiyo Ardianto menjadi salah satu tokoh mahasiswa paling vokal menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bukan pada tujuannya, melainkan pada besaran anggaran ratusan triliun rupiah yang berpotensi menggerus alokasi dana pendidikan mendasar.
Bola panas ini membuat Tiyo berada dalam sorotan tajam. Di satu sisi ia dipuji karena keberaniannya membuka potensi malapraktik anggaran, namun di sisi lain ia dituding sebagai provokator.
Baca Juga: Berburu Kuliner di Kota Madiun? Ini 5 Kawasan Paling Hits yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
Mosi Tidak Percaya: Mengguncang Internal Kampus
Keberanian Tiyo tidak hanya diarahkan keluar. Pada Mei 2025, ia memimpin Mosi Tidak Percaya kepada Rektor UGM. Alasannya tegas: Kampus dinilai kehilangan taji dan keberanian moral dalam bersikap terhadap kebijakan pemerintah yang berdampak buruk pada rakyat.
Langkah ini mengirimkan pesan kuat bahwa integritas intelektual kampus tidak boleh ditukar dengan zona nyaman kekuasaan.
Independensi: Mahasiswa Bukan Komoditas Politik
"Mahasiswa bukan alat politik, bukan komoditas, dan tidak bisa dibeli," adalah prinsip yang terus ia gaungkan. Di tengah realitas politik yang cair dan penuh kepentingan, idealisme Tiyo menjadi pembeda yang kontras.
Perjalanan Tiyo Ardianto mengingatkan kita bahwa menjadi suara kritis di era digital memiliki risiko yang nyata, mulai dari pembunuhan karakter hingga tekanan birokrasi. Namun, itulah esensi dari aktivisme.
Semakin tinggi ia berdiri, semakin kencang angin yang menerpa. Nama Tiyo Ardianto kini telah menjadi simbol bahwa di tahun 2026, keberanian mahasiswa belum benar-benar padam.
Saran Redaksi: Dinamika yang dibawa Tiyo menjadi cermin bagi gerakan mahasiswa lain untuk kembali ke khitah perjuangan yang berbasis data dan kepentingan rakyat, bukan sekadar eksistensi di media sosial. (naz)
Editor : Mizan Ahsani