Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Alasan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Pilih Jadi Aktivis, Singgung Hal yang Lebih Penting dari Kursi Kekuasaan

Grendy Damara • Selasa, 24 Maret 2026 | 19:56 WIB
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dalam sebuah aksi.
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dalam sebuah aksi.

Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah hiruk-pikuk tawaran posisi politik bagi tokoh muda, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengambil langkah yang memicu diskusi luas.

Alih-alih tergiur masuk ke dalam lingkar kekuasaan, Tiyo secara tegas menyatakan lebih memilih konsisten berjuang di jalur aktivisme bersama rakyat.

Sikap ini bukan sekadar retorika di atas mimbar.

Pilihan Tiyo mencerminkan integritas moral yang kian langka di tengah pragmatisme politik generasi muda saat ini.

Baca Juga: Umuh Muchtar Blak-blakan! Persib Bisa Hattrick Juara Super League Asal Wasit Adil

Aktivisme Bukan "Batu Loncatan" Politik

Tiyo Ardianto menegaskan sebuah prinsip keras: Gerakan mahasiswa tidak boleh dijadikan tangga menuju jabatan.

Bagi Tiyo, peran aktivis adalah menjadi penyambung lidah masyarakat yang sering kali terbungkam oleh regulasi. Ia memandang bahwa:

Baca Juga: Mengenal Duo Karakter Utama GTA 6: Mantan Tentara dan Eks Narapidana, Calon Pasangan Protagonis Paling Ikonik?

Menempuh "Jalan Sunyi" Perjuangan

Memilih berada di luar sistem tentu memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Tiyo menyadari bahwa menjadi oposisi kritis berarti siap menghadapi:

  1. Tekanan Politik: Risiko gesekan dengan pemegang kebijakan.

  2. Serangan Digital: Potensi delegitimasi di ruang maya.

  3. Kritik Pragmatis: Cibiran dari mereka yang menganggap idealisme adalah kesia-siaan.

Baca Juga: Polemik Status WNI Dean James Memanas, Bos Go Ahead Eagles Siap Seret Kasus ke Pengadilan

Namun, sejarah Indonesia membuktikan bahwa perubahan fundamental sering kali lahir dari mereka yang berani berdiri di sisi masyarakat, bukan mereka yang duduk manis di kursi empuk kekuasaan.

Keberanian Tiyo Ardianto menjadi simbol bahwa idealisme belum mati. 

Di saat banyak tokoh muda berlomba-lomba mencari panggung politik praktis demi karier, Tiyo justru mengingatkan kembali fungsi asli mahasiswa sebagai guardian of values (penjaga nilai-nilai).

Dalam sistem demokrasi yang sehat, kekuasaan membutuhkan penyeimbang.

Tanpa suara kritis dari luar, kebijakan negara berisiko kehilangan arah dan hanya berpihak pada segelintir elite. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#BEM UGM #Makan Bergizi Gratis #Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto #aktivis #Mbg #ketua bem ugm diteror #universitas gadjah mada #kritik