Jawa Pos Radar Madiun - Dunia energi sedang bergejolak. Penutupan jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak mentah global secara drastis.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa 20 persen-25 persen impor minyak Indonesia melewati jalur tersebut.
Kondisi ini kian mengkhawatirkan mengingat cadangan BBM nasional saat ini hanya bertahan untuk 23 hingga 25 hari.
Angka ini jauh di bawah standar internasional (IEA) yang mewajibkan cadangan hingga 90 hari.
Di tengah ancaman krisis pasokan ini, muncul pertanyaan besar. Apakah kendaraan listrik akan segera naik daun di Indonesia, khususnya di Madiun Raya?
Mengapa Kendaraan Listrik Kini Jadi Pilihan Logis?
Krisis migas 2026 ini diprediksi akan menjadi turning point bagi masyarakat untuk meninggalkan kendaraan konvensional.
Berikut adalah 3 alasan kuat mengapa motor listrik akan segera mendominasi jalanan:
Baca Juga: Mobil Murah Irit BBM! Ini Harga Suzuki Karimun Bekas dan Keunggulannya
1. Kebal Terhadap Fluktuasi Harga Minyak Dunia
Saat harga minyak mentah menembus angka psikologis baru, harga BBM nonsubsidi (Pertamax dkk) dipastikan akan ikut meroket.
Sebaliknya, tarif listrik relatif lebih stabil karena sumber energinya bisa diproduksi dari kekayaan alam domestik seperti batu bara dan energi terbarukan.
2. Belajar dari Krisis Myanmar
Sebagai perbandingan, junta militer Myanmar sudah mulai membatasi operasional kendaraan pribadi berdasarkan plat nomor ganjil-genap untuk menghemat stok BBM.
Kendaraan listrik (EV) menjadi satu-satunya pengecualian yang bebas beroperasi setiap hari.
Kebijakan serupa bukan tidak mungkin dipertimbangkan negara lain jika stok migas terus menipis.
3. Ketahanan Energi Mandiri
Memiliki motor listrik berarti Anda memiliki "SPBU mandiri" di rumah.
Di saat antrean SPBU mengular akibat kelangkaan pasokan, pengguna kendaraan listrik hanya perlu melakukan pengisian daya (charging) saat beristirahat di malam hari.
Baca Juga: Perang Narasi AS-Iran: Trump Klaim Teheran Nego Diam-Diam, Iran Balas Beri 5 Syarat Mutlak
Perbandingan Cadangan BBM Negara Tetangga (Maret 2026)
| Negara | Ketahanan Cadangan BBM | Kebijakan Saat Krisis |
| Singapura | 90 Hari | Stok wajib bagi perusahaan listrik. |
| Filipina | 51,5 Hari | Aman untuk periode 2 bulan. |
| Thailand | 60 Hari | Menyiapkan fuel fund untuk harga. |
| Indonesia | 23-25 Hari | Rencana bangun storage dan impor dari AS. |
Pemerintah saat ini tengah mempercepat pembangunan tangki penyimpanan (storage) minyak baru.
Namun, solusi jangka panjang yang paling efektif tetaplah pengurangan konsumsi BBM. Di berbagai daerah, infrastruktur pengisian daya (SPKLU) sudah mulai tersebar di titik-titik strategis.
Bagi warga yang sedang menimbang-nimbang untuk membeli kendaraan baru, tahun 2026 ini adalah waktu yang tepat untuk melirik motor listrik.
Selain bebas antre BBM, biaya operasionalnya terbukti jauh lebih hemat di tengah ketidakpastian ekonomi global. (naz)
Editor : Mizan Ahsani