Jawa Pos Radar Madiun - Universitas Gadjah Mada (UGM) masih memegang takhta sebagai salah satu kampus paling favorit di Indonesia.
Menjelang tahun akademik 2026/2027, persaingan melalui jalur mandiri atau CBT-UM UGM diprediksi tetap ketat dengan puluhan ribu pendaftar yang memperebutkan kursi terbatas.
Bagi calon mahasiswa, memahami komponen biaya kuliah sangatlah penting.
Berbeda dengan jalur nasional (SNBP/SNBT), jalur mandiri memiliki tiga komponen biaya utama, di antaranya Biaya Pendaftaran, Iuran Pengembangan Institusi (IPI), dan Uang Kuliah Tunggal (UKT).
1. Biaya Pendaftaran CBT-UM UGM 2026
Biaya ini dibayarkan satu kali saat melakukan registrasi seleksi. Besarannya ditentukan berdasarkan lokasi ujian yang dipilih oleh peserta:
-
Lokasi Yogyakarta: Rp350.000
-
Lokasi Jakarta: Rp550.000
2. Iuran Pengembangan Institusi (IPI)
IPI atau yang sering dikenal sebagai uang pangkal hanya dibayarkan satu kali di awal semester pertama. Berdasarkan kebijakan terbaru UGM untuk jalur mandiri, berikut besaran minimal IPI:
-
Klaster Saintek & Kesehatan: Minimal Rp30.000.000 (Contoh: Kedokteran, Teknik, Farmasi).
-
Klaster Soshum: Minimal Rp20.000.000 (Contoh: Hukum, Ekonomi, Psikologi).
-
Catatan Penting: Mahasiswa yang masuk kategori UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100% biasanya mendapatkan pembebasan biaya IPI (Gratis).
3. Estimasi UKT per Semester (Skema Unggul)
UGM menerapkan sistem UKT Pendidikan Unggul yang terbagi menjadi skema Non-Subsidi (Unggul) dan Bersubsidi.
Berikut estimasi rentang biaya per semester untuk kategori UKT Unggul (Non-Subsidi) pada beberapa prodi favorit:
| Program Studi | Estimasi UKT per Semester |
| Kedokteran | ± Rp24.700.000 |
| Farmasi | ± Rp17.300.000 |
| Psikologi | ± Rp11.000.000 |
| Hukum & Ekonomi | ± Rp9.200.000 |
| Teknik (Industri/Sipil) | ± Rp12.300.000 |
Bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, tetap tersedia skema UKT Rp0 (Subsidi 100%) selama memenuhi kriteria verifikasi ekonomi yang ketat.
UGM juga menyediakan prosedur banding atau peninjauan kembali golongan UKT jika terjadi perubahan kondisi ekonomi keluarga di tengah masa kuliah.
Baca Juga: 19 CJH Madiun Ikuti Murur, Kloter 22 Tanpa Skema Tanazul
Mengapa UGM Selalu Menjadi Pilihan Utama?
Selain nama besar dan kualitas akademik, ada dua faktor pendukung yang membuat mahasiswa betah merantau ke Jogja:
1. Persaingan Prestisius
Daya tampung prodi favorit seperti Kedokteran, Ilmu Komunikasi, dan Manajemen sering kali hanya puluhan kursi, menjadikannya tantangan bagi mereka yang menyukai kompetisi tinggi.
2. Biaya Hidup Terjangkau
Dibandingkan Jakarta atau Surabaya, biaya makan dan tempat tinggal (kos) di Yogyakarta relatif lebih ramah di kantong mahasiswa Madiun Raya.
Lingkungan budaya yang kental dan keramahan penduduk lokal memberikan kenyamanan ekstra bagi para perantau.
Memilih jalur mandiri UGM bukan hanya soal gengsi, tapi soal investasi masa depan. Dengan skema UKT bersubsidi yang tetap tersedia, UGM membuktikan diri sebagai kampus yang inklusif.
Namun, bagi calon pendaftar, pastikan skor CBT Anda maksimal karena kuota jalur mandiri ini menjadi rebutan pendaftar dari seluruh pelosok negeri. (rio/naz)
Editor : Mizan Ahsani