Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi gula nasional menyentuh angka 2,46 juta ton pada 2024, ditopang oleh perluasan area perkebunan rakyat.
Ironisnya, volume impor gula juga tetap tinggi di angka 5,31 juta ton demi menambal total kebutuhan nasional yang diperkirakan mencapai 6,33 juta ton.
Baca Juga: Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Jaksel Mengeluh Harga Plastik Naik 10 Kali Sejak Ramadan
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menilai kondisi anomali ini sangat tidak wajar.
Ia menyoroti adanya kebocoran skala besar distribusi gula rafinasi impor yang sejatinya diperuntukkan bagi industri pengolahan masuk ke pasar konsumsi rumah tangga.
"Satu sisi produksi kita kurang, tapi gulanya tidak bisa laku. Kalau bocor hanya sedikit, ini banjir," tegas Amran di hadapan DPR.
Rembesan gula rafinasi ini memicu efek domino yang fatal. Gula lokal sulit terserap sehingga memukul harga jual di tingkat petani.
Tak hanya itu, BUMN SugarCo bahkan harus menanggung kerugian hingga Rp680 miliar akibat harga pasar yang hancur lebur dihantam impor tak terkontrol.
Baca Juga: Cegah Narkoba Masuk Desa, Mendes Dukung BNN Larang Peredaran Vape
Merespons krisis ini, pemerintah langsung menempuh langkah konsolidasi.
PT Sinergi Gula Nasional (SGN) kini difokuskan penuh pada genjotan produksi hulu, sementara ID Food ditugaskan mengatur kendali perdagangan hilir.
Kebijakan larangan dan pembatasan (lartas) gula rafinasi juga tengah dimatangkan agar kebocoran distribusi dapat segera disumbat demi menyelamatkan nasib petani tebu lokal. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura