Jawa Pos Radar Madiun - Kasus kekerasan yang menimpa puluhan anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, memicu desakan evaluasi total terhadap industri tempat penitipan anak di Indonesia.
Komisi III DPR RI, Abdullah, menegaskan bahwa peristiwa keji tersebut menjadi bukti lemahnya pengawasan dan standar operasional prosedur (SOP) pada ribuan daycare yang ada saat ini.
Menurut Abdullah, keberadaan daycare di Indonesia memang sangat dibutuhkan, namun banyak yang diduga belum memenuhi standar perizinan dan kualitas yang memadai.
Belajar dari Negara Skandinavia
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (27/4), Abdullah membandingkan sistem pengasuhan di Indonesia dengan negara-negara seperti Finlandia, Swedia, dan Denmark.
Di negara-negara tersebut, daycare dikelola secara sangat ketat sebagai bagian integral dari sistem perlindungan dan pendidikan anak nasional.
"Saya mengusulkan agar peraturan pendirian daycare dan SOP-nya diperbaiki serta diperketat secara signifikan. Negara perlu hadir memaksimalkan pelayanan, termasuk memberikan subsidi sebagai bentuk tanggung jawab hak hidup layak bagi anak," ujar Abdullah.
Baca Juga: Wakil Ketua DPR Minta Little Aresha Diusut Tuntas, Beri Sanksi Tegas secara Menyeluruh
Guna meningkatkan rasa aman orang tua, Abdullah mengusulkan penerapan mekanisme profiling atau screening berbasis platform digital.
Melalui sistem ini, orang tua dapat memantau rekam jejak pengasuh dan kredibilitas lembaga sebelum menitipkan anak mereka.
Sistem digital ini diharapkan mampu meminimalisir risiko kekerasan karena adanya transparansi data pengelola yang dapat diakses langsung oleh publik dan diawasi ketat oleh otoritas terkait.
Sebagai legislator yang membidangi urusan hukum, Abdullah mengecam keras tindakan di Little Aresha yang dianggapnya tidak manusiawi.
Ia mendesak aparat penegak hukum untuk memberikan tindakan tegas dan maksimal kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pengasuh hingga pendiri yayasan.
"Saya mendesak instansi berwenang lainnya untuk memulihkan trauma fisik maupun psikologis pada anak dan orang tua yang menjadi korban dengan optimal," tegasnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani