Jawa Pos Radar Madiun – Setiap 1 Mei, jutaan pekerja di seluruh dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day.
Bukan sekadar hari libur, momentum ini menyimpan sejarah panjang perjuangan hak pekerja.
May Day kini identik dengan aksi buruh dan perayaan solidaritas pekerja. Namun, di balik itu, terdapat akar sejarah yang jauh lebih dalam, bahkan sejak ribuan tahun lalu.
Dari Festival Musim Semi ke Hari Buruh
Awalnya, May Day bukanlah tentang buruh. Tradisi ini berasal dari perayaan musim semi di belahan bumi utara, salah satunya festival Beltane.
Dalam tradisi tersebut, masyarakat merayakan kehidupan dan kesuburan dengan menari mengelilingi tiang maypole yang dihiasi pita warna-warni. Perayaan ini menjadi simbol kebangkitan alam setelah musim dingin.
Seiring waktu, makna May Day berubah drastis, terutama memasuki era revolusi industri.
Awal Perjuangan Buruh di Amerika Serikat
Pada abad ke-19, May Day mulai identik dengan gerakan buruh. Saat itu, para pekerja di Amerika Serikat menuntut perbaikan kondisi kerja, terutama pembatasan jam kerja menjadi delapan jam per hari.
Pada 1 Mei 1886, lebih dari 300 ribu pekerja di berbagai kota di Amerika Serikat melakukan aksi mogok kerja besar-besaran. Aksi ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah gerakan buruh dunia.
Namun, ketegangan memuncak dalam peristiwa Haymarket di Chicago.
Baca Juga: 15 Twibbon Hari Buruh 2026: Rayakan May Day, Download Gratis, Cara Pasang Mudah
Insiden Haymarket yang Mengguncang Dunia
Kerusuhan Haymarket pada 1886 menjadi titik balik peringatan May Day. Bentrokan antara polisi dan massa buruh pecah setelah aksi demonstrasi.
Dalam insiden tersebut, terjadi ledakan bom yang diikuti tembakan aparat. Akibatnya, sejumlah polisi dan warga sipil tewas serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa ini memicu gelombang represi terhadap gerakan buruh, namun justru memperkuat solidaritas pekerja di berbagai negara.
Pada 1889, Konferensi Sosialis Internasional menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional untuk mengenang perjuangan tersebut.
May Day Mendunia, Tapi Tidak di AS
Sejak saat itu, May Day menyebar ke berbagai negara, terutama di Eropa. Pada 1890, ratusan ribu orang ikut serta dalam aksi May Day di London.
Hingga kini, Hari Buruh diperingati sebagai hari libur resmi di puluhan negara. Namun menariknya, Amerika Serikat—tempat asal gerakan ini—tidak menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.
Meski begitu, sejarah May Day tetap dikenang sebagai simbol perjuangan global pekerja.
Sejarah Hari Buruh di Indonesia
Di Indonesia, peringatan Hari Buruh sudah dimulai sejak era kolonial. Pada 1 Mei 1918, organisasi buruh mulai memperingati May Day sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan.
Gerakan ini dipicu oleh kritik terhadap kondisi kerja yang buruk dan upah yang tidak layak.
Namun, peringatan Hari Buruh sempat dilarang pada 1926. Setelah kemerdekaan, pemerintah kembali memperbolehkan perayaan ini.
Pada 1 Mei 1946, Kabinet Sjahrir mengizinkan peringatan Hari Buruh. Kemudian, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1948 menetapkan bahwa buruh berhak tidak bekerja pada tanggal tersebut.
Momentum penting terjadi pada 2013, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.
Makna May Day bagi Pekerja Saat Ini
Kini, May Day bukan hanya peringatan sejarah, tetapi juga momentum bagi pekerja untuk menyuarakan aspirasi.
Berbagai isu seperti upah layak, jam kerja manusiawi, hak cuti, hingga tunjangan menjadi bagian dari tuntutan buruh setiap tahunnya.
Di Indonesia, peringatan May Day sering diisi dengan aksi damai, diskusi, hingga kegiatan hiburan seperti May Day Fiesta.
May Day 1 Mei bukan sekadar hari libur, melainkan simbol perjuangan panjang buruh dalam meraih hak-haknya. Dari festival musim semi hingga aksi besar pekerja dunia, peringatan ini menjadi pengingat pentingnya keadilan dan solidaritas dalam dunia kerja. (dce)
Editor : Dony Christiandi