Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Jawaban Kembar tapi Beda Nilai di Lomba Cerdas Cermat MPR, Sekretariat Jenderal Buka Suara

Mizan Ahsani • Selasa, 12 Mei 2026 | 08:58 WIB
Juri Cerdas Cermat Empat Pilar MPR viral di media sosial dan membuat geram warganet. (X)
Juri Cerdas Cermat Empat Pilar MPR viral di media sosial dan membuat geram warganet. (X)

Jawa Pos Radar Madiun - Panggung adu kecerdasan yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas mendadak berubah menjadi arena kontroversi yang memantik amarah publik dunia maya.

Sebuah insiden ganjil terjadi dalam babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

Bayangkan saja, dua tim sekolah melontarkan kalimat jawaban yang sama persis untuk satu pertanyaan, namun nasib skor mereka ibarat bumi dan langit.

Tim SMAN 1 Pontianak harus menelan pil pahit berupa pengurangan nilai, sementara SMAN 1 Sambas justru melenggang dengan poin sempurna.

Lantas, apa dalih dewan juri di balik keputusan mutlak yang akhirnya memicu badai protes dari para warganet ini?

Jawaban Identik Berujung Petaka Skor Minus

Polemik panas ini mulai bergulir ketika regu C yang mewakili SMAN 1 Pontianak mendapat giliran menjawab pertanyaan seputar mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Tanpa ragu, salah satu perwakilan siswa langsung memberikan jawaban lugas.

“Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan presiden,” ujar salah satu peserta dari SMAN 1 Pontianak.

Anehnya, dewan juri justru mengganjar ketegasan tersebut dengan pengurangan lima poin.

Sesuai aturan lomba, pertanyaan yang sama kemudian dilemparkan kepada peserta lain dan sukses dijawab oleh perwakilan SMAN 1 Sambas.

“Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan presiden,” ucap peserta dari SMAN 1 Sambas.

Mendengar kalimat yang tidak memiliki perbedaan substansi itu, Kepala Biro Pengkajian Konstitusi sekaligus ketua dewan juri, Dyastasita Widya Budi, justru memberikan apresiasi penuh dan poin maksimal kepada tim kedua.

“Inti jawabannya sudah benar, nilai 10,” kata Dyastasita.

Baca Juga: Rekrut Megawati Hangestri, Pelatih Hyundai Hillstate Beri Penjelasan Terkait Isu Cedera Sang Pemain

Protes Peserta dan Tanggapan Menohok Panitia

Ketimpangan skor yang terjadi di depan mata kontan membuat tim SMAN 1 Pontianak bereaksi keras. Mereka merasa tidak ada secuil pun perbedaan makna dari apa yang telah mereka utarakan sebelumnya.

“Dewan juri, izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B,” kata salah satu peserta.

Guna memperkuat argumen, para siswa pemberani ini bahkan meminta penonton di lokasi studio untuk bersaksi bahwa frasa tentang keterlibatan DPD telah mereka sebutkan dengan amat jelas.

Sayangnya, pembelaan tersebut justru bertepuk sebelah tangan. Dewan juri tampak enggan meninjau ulang tayangan dan mempertahankan keputusan mutlak mereka.

“Keputusan saya kira di dewan juri, ya,” ujar Dyastasita.

Situasi semakin keruh saat pembawa acara (MC) ikut campur menenangkan suasana dengan narasi yang belakangan dinilai warganet kurang menghargai usaha peserta.

“Baik adik-adik, keputusan di dewan juri karena dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengar jawaban dari adik-adik,” jelas MC.

“Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja, nanti bisa dilihat tayangan ulangnya,” sambungnya.

Menambah rentetan kontroversi, Indri Wahyuni selaku Kabag Sekretariat Badan Sosialisasi yang juga bertindak sebagai anggota dewan juri, memberikan alasan berbeda terkait masalah artikulasi peserta saat berbicara.

“Begini, kan sudah diperingatkan dari awal bahwa artikulasi itu penting,” papar Indri.

“Jadi, biasakan menjawab dengan artikulasi yang jelas, kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai kalian tidak karena mendengar artikulasi yang tidak jelas, artinya dewan juri berhak memberi nilai minus 5,” imbuhnya.

Akun MPR RI Digeruduk dan Evaluasi Besar-besaran

Alasan seputar artikulasi dan sikap panitia yang terkesan defensif sontak memancing kemarahan publik.

Video potongan kejadian tersebut viral dan membuat akun Instagram resmi MPR RI diserang lebih dari 1.600 komentar tajam yang meragukan integritas penilaian.

Tidak tinggal diam, pihak SMAN 1 Pontianak juga telah menyusun nota keberatan yang menyebar luas sejak Senin (11/5).

Mereka mendesak adanya transparansi dan menyoroti kelalaian tim penilai di meja juri.

“Kurangnya fokus dewan juri dalam beberapa momen penilaian, yang berpotensi mempengaruhi objektivitas hasil,” demikian isi poin kedua tuntutan klarifikasi dari SMAN 1 Pontianak yang beredar pada Senin (11/5).

Menghadapi bola panas yang terus menggelinding, Sekretariat Jenderal MPR RI akhirnya buka suara.

Pihaknya berjanji akan melakukan penelusuran internal serta evaluasi menyeluruh terkait mekanisme penilaian, sistem verifikasi tayangan ulang, hingga tata cara penanganan keberatan peserta.

Langkah perbaikan ini diambil semata-mata demi menjaga muruah kompetisi LCC sebagai ajang edukasi karakter kebangsaan yang objektif, transparan, dan adil bagi seluruh generasi muda penerus bangsa. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#cerdas cermat mpr #Viral #juri #profil