Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cegah Keracunan MBG, Badan Gizi Nasional Larang Masak Mi Tanpa Koki Ahli

Mizan Ahsani • Rabu, 13 Mei 2026 | 10:52 WIB
Ilustrasi Porsi Makan Bergizi Gratis (suara.com)
Ilustrasi Porsi Makan Bergizi Gratis (suara.com)

Jawa Pos Radar Madiun - Insiden keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa kembali menjadi sorotan utama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Badan Gizi Nasional secara resmi mengambil langkah tegas untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa mendatang.

Mereka telah menerbitkan surat edaran khusus bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di berbagai wilayah terkait pemilihan dan pengolahan bahan makanan.

Baca Juga: Bansos Tak Lagi Nyasar! Pemerintah Gunakan AI dan Big Data, Rilis Program Pro-Kesra

Berikut adalah rangkuman fakta terkait kebijakan baru dari Badan Gizi Nasional menyusul insiden gangguan pencernaan masal tersebut.

Larangan Memasak Mi Sembarangan

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan adanya aturan ketat mengenai pengolahan menu mi.

Pihaknya melarang keras unit pelayanan gizi menyajikan olahan mi jika belum memiliki juru masak yang ahli dan menguasai tekniknya.

Teknik memasak mi yang tidak tepat sangat berisiko membuat makanan tersebut menjadi cepat basi dan tidak layak konsumsi bagi anak-anak.

Buntut Keracunan Ratusan Siswa

Kebijakan pengetatan menu ini diambil setelah munculnya kasus gangguan pencernaan yang menimpa seratus empat puluh tujuh anak pada hari Jumat lalu.

Para siswa di Jakarta Timur tersebut mengalami sakit perut usai menyantap paket makanan berisi bakmi Jawa, ayam suwir, dan berbagai pelengkap lainnya.

Sebanyak tiga puluh tiga anak di antaranya bahkan sempat dirawat inap di rumah sakit sebelum akhirnya diperbolehkan pulang pada hari Senin.

Karakteristik Mi Basah yang Rawan Basi

Nanik memaparkan bahwa mi basah atau mi kuning segar memiliki kadar air yang sangat tinggi dibandingkan bahan karbohidrat lainnya.

Kondisi fisik bahan tersebut menjadikannya sebagai tempat yang sangat ideal bagi perkembangbiakan mikroorganisme secara cepat.

Jika tidak diolah dengan standar higienitas dan suhu yang tepat, mi basah akan sangat mudah rusak sebelum sempat dikonsumsi oleh para siswa.

Rentetan Kasus Serupa di Ibu Kota

Fakta mengejutkan terungkap bahwa insiden keracunan mi ini bukanlah kejadian pertama sejak program makan gratis berjalan selama satu setengah tahun di Jakarta.

Pihak berwenang mencatat telah terjadi sepuluh kali kejadian luar biasa berupa gangguan pencernaan masal pada anak-anak.

Sangat disayangkan, tujuh dari sepuluh insiden fatal tersebut ternyata dipicu oleh hidangan berbahan dasar mi, termasuk kasus keracunan spageti bulan sebelumnya.

Baca Juga: Tok! MK Tolak Gugatan UU IKN, Tegaskan Jakarta Sah Tetap Jadi Ibu Kota Negara

Kesimpulannya, pemilihan menu dan keahlian juru masak memegang peranan sangat vital untuk menjaga keamanan pangan dalam program berskala nasional ini.

Penyelenggara dapur gizi harus lebih selektif dalam mengelola bahan rentan basi demi menjamin kesehatan dan keselamatan generasi penerus bangsa. (*)

*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura

Editor : Mizan Ahsani
#MakanBergiziGratis #KeracunanMakanan #BadanGiziNasional #AturanGiziSiswa #ProgramMBG2026