Jawa Pos Radar Madiun - Manajemen VinFast menunggu hasil investigasi insiden tragis kecelakaan kereta api yang melibatkan armada taksi Green SM di Stasiun Bekasi Timur, 27 April lalu.
Peristiwa nahas tersebut dilaporkan menelan belasan korban jiwa dan melukai puluhan orang lainnya.
CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menyatakan rasa belasungkawa yang mendalam dan menegaskan bahwa pihaknya tengah menunggu hasil investigasi resmi dari otoritas berwenang.
"Pada prinsipnya tentu kami bersimpati, berduka cita mendalam atas kejadian tersebut. Saat ini prosesnya masih dalam tahap investigasi oleh KNKT, kepolisian, dan instansi terkait," kata Kariyanto.
Lebih lanjut, Kariyanto memastikan bahwa VinFast mendukung penuh seluruh proses penyelidikan yang sedang dikomandoi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) beserta jajaran kepolisian.
Sebagai pemegang merek kendaraan yang digunakan oleh taksi Green SM, VinFast bersikap kooperatif dengan membuka akses dan memberikan dukungan data teknis yang dibutuhkan.
"Green SM merupakan sister company atau taksi operator, customer kami juga. Tapi kami selaku brand holder, pemilik produk, tentu berkolaborasi, kami support seluruh proses penyelidikan," tegasnya.
Terkait kesimpulan dari peristiwa tersebut, Kariyanto enggan berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwajib.
"Hasil akhirnya seperti apa? Nanti tentu itu statement akan diberikan oleh pihak yang terkait, dalam hal ini KNKT," tambahnya.
Baca Juga: Rupiah Melemah Bikin Harga Mobil Naik? BYD Blak-blakan Ungkap Strategi Penjualannya
Guna meluruskan persepsi publik, Kariyanto juga menjelaskan posisi Green SM yang merupakan entitas bisnis terpisah, meskipun sama-sama berada di bawah payung ekosistem VinFast Group di Indonesia.
Sebagai informasi, ekosistem VinFast di Tanah Air saat ini mencakup beberapa lini bisnis.
Pertama, VinFast Automobile yang bertanggung jawab selaku pengelola fasilitas pabrik perakitan di Subang.
Kedua, VinFast Trading Indonesia. Tugasnya menangani distribusi dan penjualan kendaraan.
Ketiga, VGreen Indonesia yang berfokus pada penyediaan infrastruktur pengisian daya (charging station).
Keempat, Green SM Indonesia, yakni perusahaan operator taksi listrik yang terlibat insiden kecelakaan dua kereta di Bekasi, akhir Apirl lalu..
"Green SM itu perusahaan terpisah dan ada CEO-nya sendiri, ada perusahaan sendiri. Jadi bagi kami Green SM itu adalah customer yang membeli kendaraan dari kami. Jadi entitas terpisah," Kariyanto menjelaskan.
Di tengah bergulirnya proses investigasi, VinFast menegaskan bahwa fokus utama perusahaan saat ini tetap pada peningkatan pengalaman pelanggan, baik melalui layanan penjualan maupun purnajual.
Selain itu, Vinfast juga terus menggenjot program penerimaan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. (naz)
Editor : Mizan Ahsani