Jawa Pos Radar Madiun - Laju harga batu bara global mulai tertahan.
Setelah sempat mengalami lonjakan hampir 7 persen pada perdagangan Senin lalu, harga komoditas "emas hitam" ini perlahan melandai dan terkoreksi turun.
Berdasarkan data Refinitiv pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), harga kontrak batu bara untuk bulan Juli melemah 0,92 persen dan ditutup di posisi US$ 144,8.
Meski terkoreksi, angka ini masih berada di kisaran level tertinggi sejak akhir Maret 2026.
Pergerakan harga batu bara sangat sensitif terhadap dinamika di China dan India selaku dua negara konsumen terbesarnya.
Pelemahan harga kali ini dipicu oleh melambatnya permintaan serta sikap wait and see dari para pelaku pasar (trader) di kedua negara raksasa tersebut.
Baca Juga: Profil Nanik S Deyang, Jurnalis dari Madiun yang Kini Pimpin BGN Gantikan Dadan Hindayana
Kebuntuan Transaksi di Pasar China
Di pelabuhan utama China, pasar batu bara termal tengah mengalami fase kebuntuan (standoff) antara pihak penjual dan pembeli.
Penjual Bertahan
Produsen tetap mematok harga tinggi karena mahalnya biaya produksi.
Kekhawatiran pasokan akibat inspeksi keselamatan tambang di Shanxi sebelumnya juga membuat penjual enggan menurunkan harga, meski tekanan mulai mereda seiring naiknya produksi di awal Juni.
Pembeli Menahan Diri
Pabrik utilitas listrik di China menolak membeli dengan harga tinggi karena margin keuntungan yang makin tipis.
Pembeli juga mulai berhati-hati melirik batu bara impor dari Indonesia dan Australia karena harganya dinilai lebih mahal dibandingkan pasokan domestik.
Baca Juga: Sering Bawa Banyak Barang Bawaan? Mitsubishi Destinator Punya Solusi Kabin Super Praktis
Tumpukan Stok dan Transisi Energi di India
Sementara itu, kondisi di India memberikan tekanan yang tak kalah besar terhadap harga global.
Coal India Limited, perusahaan tambang milik negara, terpaksa memangkas produksi batu bara hingga hampir 12 persen sepanjang bulan Mei.
Langkah pemangkasan ini diambil karena beberapa faktor krusial:
Penumpukan Stok
Permintaan listrik di India gagal mengimbangi besarnya pasokan. Akibatnya, persediaan batu bara yang belum terjual menumpuk hingga lebih dari 100 juta ton selama setahun terakhir.
Mayoritas pembangkit listrik sudah menimbun stok sebelum musim panas tiba, sehingga membatasi transaksi pembelian baru.
Gempuran Energi Terbarukan
Dominasi batu bara mulai tergerus. Rupesh Sankhe, Senior Vice President Riset Elara Capital India, mencatat bahwa saat gelombang panas ekstrem melanda pada Mei, produksi listrik dari energi terbarukan melonjak 29 persen.
Sebaliknya, pembangkit berbahan bakar batu bara hanya naik sekitar 10 persen.
Lesunya serapan dari India dan kebuntuan harga di China ini menjadi sinyal tantangan berat bagi industri batu bara di tengah gempuran tren diversifikasi pasar energi global. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura.