Jawa Pos Radar Madiun - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya secara resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pascagempa bumi di perairan Laut Sulawesi.
Keputusan krusial tersebut disampaikan secara langsung oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (8/6) pukul 10.30 WIB.
Di hadapan awak media, Teuku Faisal Fathani memaparkan secara rinci timeline atau rekam jejak pembaruan parameter peringatan bahaya sejak guncangan pertama terjadi.
Berdasarkan paparan data resmi, gempa bumi tektonik dahsyat tersebut tercatat terjadi tepat pada pukul 06.37 WIB.
Kurang dari dua menit berselang, atau pada pukul 06.39 WIB, sistem sensor otomatis BMKG mengeluarkan hasil deteksi pertama yang mengukur kekuatan gempa pada magnitudo 8,0.
Namun, pada pukul 06.40 WIB, BMKG segera mengoreksi data sekaligus merilis Peringatan Dini Tsunami pertama (PDT 1) dengan kekuatan gempa magnitudo 7,7.
Baca Juga: Breaking News: BNPB Siaga Evakuasi Tsunami di 5 Provinsi, Warga Diminta Jauhi Pantai
Pembaruan parameter kewaspadaan tersebut kembali ditegaskan melalui perilisan Peringatan Dini kedua (PDT 2) pada pukul 06.51 WIB yang masih berstatus potensi tsunami.
Kekhawatiran akan datangnya gelombang mematikan tersebut akhirnya benar-benar terbukti melalui catatan stasiun pemantau muka air laut atau tide gauge.
Faisal menjelaskan bahwa pada pukul 08.13 WIB, peringatan dini ketiga (PDT 3.1) terpaksa dikeluarkan setelah tsunami terdeteksi menghantam beberapa wilayah pesisir.
Gelombang pasang tersebut terpantau menyapu Loloda di Maluku Utara setinggi 0,09 meter, Ulu Siau 0,18 meter, dan pesisir Melonguane setinggi 0,32 meter.
Ancaman ombak rupanya belum berhenti di situ karena pada pukul 08.34 WIB, BMKG kembali mengeluarkan pembaruan Peringatan Dini 3.2.
Gelombang tsunami susulan kembali terdeteksi menyapu sejumlah wilayah lain dengan tingkat ketinggian air yang jauh lebih bervariasi.
Baca Juga: Daftar Juara Piala AFF U-19 dari Tahun ke Tahun: Indonesia Berpeluang Back to Back Juara
Sensor tide gauge merekam kenaikan air di Tahuna setinggi 0,30 meter, Paleleh 0,45 meter, Tanjung Sidupa 0,32 meter, Bitung 0,29 meter, dan Ternate 0,14 meter.
Puncak gelombang tsunami paling tinggi pada peristiwa bencana kali ini tercatat menerjang kawasan perairan Talengen dengan ketinggian mencapai 0,75 meter atau 75 sentimeter.
Setelah melakukan pemantauan visual dan instrumen secara intensif selama beberapa jam, ancaman gelombang tersebut dipastikan telah sepenuhnya mereda.
Tepat pada pukul 10.15 WIB, BMKG secara resmi merilis Peringatan Dini 4 yang menjadi penanda utama pengiriman status pengakhiran tsunami.
"Tsunami tidak terdeteksi lagi," tegas penjelasan dalam infografis timeline yang dipaparkan langsung oleh jajaran pimpinan BMKG tersebut.
Dengan dicabutnya peringatan bahaya ini, masyarakat dan pemerintah daerah di pesisir diimbau untuk kembali beraktivitas normal namun tetap memantau kanal informasi resmi. (naz)
Editor : Mizan Ahsani