Jawa Pos Radar Madiun - Geliat industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) secara global membawa berkah tersendiri bagi Indonesia.
Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar, Indonesia tidak lagi sekadar mengandalkan ekspor bahan mentah, melainkan telah sukses membangun ekosistem hilirisasi mineral yang terstruktur.
Hal ini diakui secara langsung oleh perusahaan pemasok bahan baku baterai global, CNGR Indonesia.
Direktur Hubungan Eksternal CNGR Indonesia, Magdalena Veronica, menilai bahwa fondasi hilirisasi nikel di Tanah Air sejatinya telah terbentuk dengan sangat baik jauh sebelum badai pandemi Covid-19 melanda maupun sebelum gelombang tren investasi baterai EV membeludak.
Menurut Magdalena, kesiapan ekosistem inilah yang menjadi magnet kuat bagi para investor asing untuk menanamkan modal besar-besaran di Indonesia.
Baca Juga: Travel Tujuan Madura Tabrak Truk di Tol Solo–Ngawi, Sopir Patah Kedua Kaki
Faktor Pendorong Kesuksesan Hilirisasi Nikel RI
Keberhasilan Indonesia dalam menarik minat investor raksasa di sektor baterai EV tidak lepas dari beberapa capaian strategis berikut.
Sumber Daya Melimpah
Ketersediaan cadangan nikel yang sangat masif menjadi modal utama yang menjamin kelangsungan pasokan bahan baku baterai jangka panjang.
Fasilitas Pengolahan (Smelter) yang BerkembangIndonesia telah membangun banyak fasilitas peleburan (smelter) yang andal untuk mendukung proses pengolahan mineral di dalam negeri secara mandiri.
Produksi Barang Bernilai Tambah
Kehadiran fasilitas smelter memicu lahirnya berbagai produk intermediate (produk antara) yang memiliki nilai tambah ekonomi jauh lebih tinggi dibandingkan sekadar mengekspor nikel mentah.
Baca Juga: Diisukan Geser Purbaya Jadi Menkeu Baru, Begini Tanggapan Menkes Budi Gunadi Sadikin
Tonggak Sejarah 2014 dan Dominasi Pasokan Global
Perkembangan pesat ekosistem nikel ini mulai terlihat nyata sejak pemerintah mengambil kebijakan tegas untuk mendorong pengolahan mineral di dalam negeri pada tahun 2014 silam.
"Dari tahun 2014 hingga lima tahun setelahnya, tepat sebelum masa Covid-19, kapasitas produksi dari hilirisasi nikel di Indonesia sebenarnya sudah meningkat sangat tajam," jelas Magdalena.
Buah dari konsistensi kebijakan tersebut terbukti dengan dominasi Indonesia di pasar global. Pada tahun 2025, Indonesia tercatat menduduki posisi puncak dengan memasok hingga 67 persen dari total kebutuhan nikel dunia.
Baca Juga: Tambang Sayutan Magetan Disetop Sementara, Pemprov Jatim Evaluasi Perizinan
Fakta ini menegaskan bahwa Indonesia bukanlah pemain amatir yang baru memulai tahap hilirisasi.
Sebaliknya, industri mineral di Tanah Air kini sudah memasuki titik kematangan yang solid.
Tantangan ke depannya hanyalah melahirkan lebih banyak inovasi canggih untuk memperkuat ekosistem manufaktur teknologi lainnya di masa depan. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani