Jawa Pos Radar Madiun - Di beberapa wilayah Indonesia, akses internet masih menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
Anak-anak sekolah harus menempuh cara-cara terbatas untuk belajar, fasilitas kesehatan kesulitan mengakses data digital, dan layanan publik berjalan tanpa dukungan konektivitas yang memadai.
Di tengah tantangan itu, hadir SATRIA-1 sebagai upaya besar negara untuk menghadirkan internet hingga ke titik paling terpencil.
Satelit ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan bagian dari strategi nasional untuk menutup kesenjangan digital yang selama ini membentang antara kota besar dan wilayah 3T (Terluar, Tertinggal, dan Terdepan).
Apa Itu SATRIA-1 dan Mengapa Penting?
Baca Juga: Di Balik Gemerlap Industri Nikel, Warga Kabaena Berjuang Bertahan Hidup
SATRIA (Satelit Republik Indonesia) merupakan proyek strategis nasional yang dirancang untuk menyediakan akses internet merata di seluruh Indonesia, khususnya wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial.
Proyek ini dijalankan melalui skema Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) menggunakan sistem Availability Payment selama 15 tahun, sebagaimana diatur dalam Perpres No. 38 Tahun 2015.
Satelit ini mulai dibangun pada akhir 2020 dan resmi diluncurkan pada 2023, melibatkan kolaborasi internasional dengan Thales Alenia Space dari Prancis serta SpaceX dari Amerika Serikat.
SATRIA-1 resmi diluncurkan pada 18 Juni 2023 pukul 18.21 UTC (atau sekitar 19 Juni 2023 pukul 01.21 WIB),
melalui roket Falcon 9 dari Cape Canaveral, Amerika Serikat, dalam misi peluncuran yang melibatkan kerja sama internasional dengan SpaceX dan Thales Alenia Space.
Teknologi dan Kapasitas SATRIA-1
Kapasitas Besar untuk Jangkauan Luas
SATRIA-1 dibekali teknologi High Throughput Satellite (HTS) dengan kapasitas hingga 150 Gbps.
Kapasitas ini memungkinkan distribusi internet ke ribuan titik layanan secara simultan.
Infrastruktur Pendukung di Darat
Untuk mendukung operasionalnya, satelit ini terhubung dengan 11 stasiun bumi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Infrastruktur ini menjadi penghubung penting antara satelit di orbit dan pengguna di lapangan.
Baca Juga: Emas Melemah ke Rp2,46 Juta per Gram, Investor Mulai Mengincar Peluang Baru
Jangkauan Layanan: Dari Sekolah Hingga Fasilitas Kesehatan
SATRIA-1 dirancang untuk menjangkau sekitar 37.000 titik layanan publik. Beberapa di antaranya meliputi:
- Sekolah dan pesantren
- Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya
- Kantor pemerintahan daerah
- Layanan keamanan di wilayah terpencil
Dengan jangkauan ini, SATRIA-1 diharapkan mampu memberikan dampak langsung pada kualitas layanan dasar masyarakat.
Dampak Besar bagi 45 Juta Masyarakat
Lebih dari sekadar infrastruktur, SATRIA-1 diproyeksikan membuka akses internet bagi sekitar 45 juta penduduk Indonesia yang sebelumnya belum terhubung jaringan digital.
Dampaknya mencakup berbagai sektor:
- Pendidikan: Akses pembelajaran daring menjadi lebih merata
- Kesehatan: Pertukaran data medis lebih cepat dan akurat
- Pemerintahan: Layanan publik berbasis elektronik lebih efisien
- Keamanan: Koordinasi antarinstansi lebih responsif
Baca Juga: Dari Camping Ground Biasa Jadi Rumah Dinosaurus, Begini Transformasi Mojosemi Forest Park Magetan
Namun, di balik optimisme ini, tantangan tetap ada. Keberhasilan SATRIA-1 tidak hanya bergantung pada satelitnya, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur lokal dan kemampuan SDM di daerah.
Menutup Kesenjangan Digital, atau Sekadar Memperluas Akses?
SATRIA-1 membawa harapan besar untuk pemerataan internet di Indonesia.
Namun pertanyaan penting tetap muncul: apakah akses internet otomatis akan menghapus kesenjangan digital, atau justru membuka babak baru tantangan dalam pemanfaatannya?
Jawabannya akan sangat bergantung pada bagaimana teknologi ini diintegrasikan dengan kebijakan, pendidikan digital, dan pembangunan daerah. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun