Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Dari Kesetaraan hingga Perlawanan terhadap Pelecehan, Ini Alasan Perempuan Menjadi Feminis

Tim Magang Radar Madiun • Minggu, 21 Juni 2026 | 20:26 WIB
Pro dan Kontra Feminisme (Mizanstore Blog)
Pro dan Kontra Feminisme (Mizanstore Blog)

Jawa Pos Radar Madiun - Istilah feminisme semakin sering muncul dalam berbagai diskusi publik, baik di media sosial maupun ruang-ruang akademik.

Namun, seiring meningkatnya perhatian terhadap isu tersebut, perdebatan juga terus bermunculan.

Sebagian orang melihat feminisme sebagai gerakan yang memperjuangkan kesetaraan hak,

sementara sebagian lainnya masih memandangnya secara negatif karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini melekat pada perempuan.

Di balik beragam pandangan tersebut, feminisme pada dasarnya hadir sebagai gerakan yang memperjuangkan kesetaraan hak dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Baca Juga: SATRIA-1: Satelit Raksasa yang Diam-Diam Mengubah Wajah Internet Indonesia di Wilayah 3T

Mulai dari pendidikan, pekerjaan, politik, hukum, hingga kehidupan sosial, feminisme berupaya mendorong terciptanya perlakuan yang lebih adil tanpa memandang gender.

Feminisme dan Perjuangan Kesetaraan Gender

Feminisme dikenal sebagai gerakan sosial yang menekankan pentingnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.

Gerakan ini juga menyoroti berbagai bentuk diskriminasi, kekerasan, serta perlakuan tidak adil yang dialami perempuan di berbagai belahan dunia.

Dalam perkembangannya, dukungan terhadap feminisme tidak hanya datang dari perempuan.

Banyak laki-laki juga mulai terlibat dalam gerakan kesetaraan gender melalui berbagai kampanye solidaritas,

salah satunya gerakan #HeForShe yang mengajak seluruh gender untuk mendukung hak-hak perempuan.

Baca Juga: Di Balik Gemerlap Industri Nikel, Warga Kabaena Berjuang Bertahan Hidup

Karena Perempuan Tidak Ingin Lagi Dipandang sebagai Kelas Kedua
Stigma yang Masih Bertahan

Salah satu alasan yang mendorong perempuan mendukung feminisme adalah keinginan untuk keluar dari stigma yang selama ini melekat pada mereka.

Dalam banyak budaya, perempuan kerap dianggap lebih lemah, terlalu emosional, bergantung pada laki-laki, atau hanya cocok berada di ranah domestik.

Pandangan tersebut sering kali membatasi kesempatan perempuan untuk berkembang dan berpartisipasi dalam berbagai bidang.

Padahal, kemampuan seseorang tidak semata ditentukan oleh jenis kelamin.

Banyak perempuan telah membuktikan bahwa mereka mampu memimpin, berkarya, dan berkontribusi dalam berbagai sektor kehidupan.

Kesempatan yang Setara

Feminisme mendorong agar perempuan memiliki akses yang sama terhadap pendidikan, pekerjaan, serta kesempatan untuk menduduki posisi strategis di masyarakat.

Tujuannya bukan untuk mengungguli laki-laki, melainkan memastikan setiap individu memperoleh kesempatan yang adil.

Baca Juga: Tengah Malam Berubah Mencekam, Bentrokan Antar Kelompok Silat Picu Kerusakan dan Korban di Surabaya

Karena Perempuan Tidak Ingin Menjadi Korban Pelecehan dan Kekerasan
Kesadaran atas Banyaknya Kasus Kekerasan

Meningkatnya perhatian terhadap kasus kekerasan seksual juga menjadi salah satu faktor berkembangnya feminisme.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kampanye global seperti #MeToo berhasil membuka diskusi luas mengenai pengalaman para korban pelecehan seksual yang sebelumnya sering tidak terdengar.

Gerakan tersebut menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender masih menjadi persoalan serius yang dialami banyak perempuan di berbagai negara.

Perlindungan bagi Korban

Di Indonesia, isu perlindungan terhadap korban kekerasan seksual juga terus mendapat perhatian.

Berbagai regulasi dan kebijakan didorong untuk memberikan perlindungan yang lebih baik bagi korban sekaligus memperkuat penegakan hukum terhadap pelaku.

Bagi banyak perempuan, feminisme menjadi sarana untuk menyuarakan pentingnya lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan.

Karena Peduli terhadap Sesama Perempuan
Empati yang Melahirkan Perjuangan

Feminisme juga berkembang karena adanya kepedulian terhadap pengalaman yang dialami perempuan lain.

Baca Juga: Madiun Berkilau! Ini Deretan Event Meriah yang Siap Ramaikan Hari Jadi ke-108 Kota Madiun

Ketika melihat sesama perempuan menghadapi diskriminasi, keterbatasan akses pendidikan, atau kekerasan, banyak perempuan merasa perlu ikut memperjuangkan perubahan yang lebih baik.

Empati tersebut kemudian mendorong lahirnya berbagai gerakan sosial yang berupaya memperluas kesempatan bagi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.

Inspirasi dari Perjuangan Kartini

Di Indonesia, semangat memperjuangkan hak perempuan sering dikaitkan dengan perjuangan R.A. Kartini.

Melalui gagasannya tentang pendidikan, Kartini memperjuangkan kesempatan belajar bagi perempuan pada masa kolonial.

Perjuangan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan kesadaran akan pentingnya kesetaraan hak bagi perempuan di Indonesia.

Feminisme Bukan Upaya Menjatuhkan Laki-Laki

Salah satu kesalahpahaman yang masih sering muncul adalah anggapan bahwa feminisme bertujuan menyingkirkan atau melemahkan laki-laki.

Baca Juga: Emas Melemah ke Rp2,46 Juta per Gram, Investor Mulai Mengincar Peluang Baru

Padahal, tujuan utama gerakan ini adalah menciptakan kesetaraan hak dan kesempatan bagi semua orang tanpa memandang gender.

Feminisme menekankan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, bekerja, memimpin, berkarya, dan menentukan pilihan hidupnya.

Gerakan ini berupaya menghapus hambatan sosial yang selama ini membatasi perempuan dalam mengembangkan potensinya.

Dengan demikian, feminisme bukanlah gerakan untuk menciptakan dominasi baru, melainkan upaya membangun masyarakat yang lebih adil dan setara bagi semua. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Magang Radar Madiun
#Feminisme #Kehidupan Sosial #kesetaraan gender