Jawa Pos Radar Madiun - Di ujung timur Indonesia, sebuah proyek strategis tengah dipersiapkan untuk mengubah posisi Indonesia dalam industri antariksa dunia.
Setelah puluhan tahun hanya menjadi pengguna teknologi luar angkasa, Indonesia kini bersiap membangun fasilitas peluncuran roket nasional di Pulau Biak, Papua.
Proyek ini digadang-gadang menjadi gerbang baru bagi pengembangan teknologi antariksa sekaligus penguatan kedaulatan nasional di sektor strategis.
Pembangunan Spaceport Ditargetkan Dimulai pada 2026
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan pembangunan fisik bandar antariksa atau spaceport di Biak dapat dimulai pada 2026.
Langkah tersebut dilakukan setelah berbagai proses penyusunan regulasi dan koordinasi lintas sektor semakin matang.
Pembangunan fasilitas ini dipandang sebagai kebutuhan strategis untuk mendukung aktivitas peluncuran satelit dan roket dari wilayah Indonesia sendiri.
Baca Juga: Emas Melemah ke Rp2,46 Juta per Gram, Investor Mulai Mengincar Peluang Baru
Selain memperkuat kemampuan nasional, keberadaan spaceport juga membuka peluang Indonesia masuk lebih jauh ke dalam ekonomi antariksa global yang terus berkembang.
Mengapa Pulau Biak Dipilih?
Dekat dengan Garis Khatulistiwa
Pulau Biak memiliki keunggulan geografis yang jarang dimiliki wilayah lain.
Lokasinya yang berada dekat garis khatulistiwa memungkinkan roket memanfaatkan kecepatan rotasi bumi saat peluncuran.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan bahan bakar menjadi lebih efisien, terutama untuk misi menuju orbit rendah bumi yang banyak digunakan satelit komunikasi dan pengamatan.
Memiliki Jalur Peluncuran yang Aman
Selain faktor khatulistiwa, posisi Biak yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik memberikan keuntungan dari sisi keselamatan operasional.
Jalur peluncuran dapat diarahkan ke area lautan terbuka sehingga mengurangi risiko terhadap kawasan permukiman apabila terjadi pelepasan tahap roket atau insiden teknis lainnya.
Faktor ini menjadikan Biak sebagai salah satu lokasi potensial untuk aktivitas peluncuran antariksa di kawasan Asia-Pasifik.
Didukung Regulasi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Untuk mempercepat realisasi proyek, BRIN menggandeng berbagai pihak mulai dari kementerian, pemerintah daerah, unsur keamanan, perguruan tinggi, hingga sektor industri.
Baca Juga: Nickelodeon Buka Jalan ke Industri Animasi, Ini Program yang Diburu Talenta Muda
Koordinasi tersebut diperlukan karena pembangunan bandar antariksa tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut tata ruang wilayah, keamanan nasional, lingkungan, hingga pengembangan ekonomi daerah.
Pemerintah juga tengah menyiapkan regulasi operasional yang akan menjadi dasar hukum pengelolaan dan penyelenggaraan spaceport.
Selain itu, Spaceport Biak diusulkan masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional guna memperkuat dukungan pendanaan dan percepatan perizinan.
Potensi Mendorong Ekonomi Baru
Membuka Lapangan Kerja dan Industri Pendukung
Keberadaan spaceport diperkirakan tidak hanya berdampak pada sektor teknologi.
Proyek ini juga berpotensi menciptakan berbagai peluang ekonomi baru melalui kebutuhan tenaga kerja, jasa pendukung, hingga pengembangan infrastruktur.
Industri yang berkaitan dengan manufaktur komponen roket, pengembangan satelit, penelitian antariksa, hingga layanan berbasis data luar angkasa diprediksi ikut berkembang seiring beroperasinya fasilitas tersebut.
Memperkuat Posisi Indonesia di Pasar Antariksa
Dengan memiliki fasilitas peluncuran sendiri, Indonesia berpeluang menawarkan layanan peluncuran bagi berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri.
Hal ini dapat meningkatkan daya saing nasional dalam industri peluncuran satelit komersial yang saat ini terus tumbuh di berbagai negara.
Kerja Sama Internasional Tetap Dibangun
Dalam pengembangannya, Indonesia juga membuka ruang kolaborasi dengan sejumlah mitra internasional.
Kerja sama tersebut melibatkan lembaga riset dan perusahaan yang memiliki pengalaman dalam teknologi peluncuran antariksa.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama dalam setiap bentuk kemitraan yang dilakukan.
Melanjutkan Rencana yang Sudah Dirintis Sejak Lama
Gagasan pembangunan bandar antariksa di Biak sebenarnya bukan hal baru. Kajian mengenai lokasi tersebut telah dilakukan sejak 1980-an oleh lembaga antariksa Indonesia.
Baca Juga: SATRIA-1: Satelit Raksasa yang Diam-Diam Mengubah Wajah Internet Indonesia di Wilayah 3T
Namun berbagai kendala membuat proyek tersebut belum dapat diwujudkan selama beberapa dekade.
Kini, dengan dukungan teknologi yang lebih maju, kesiapan regulasi, serta kolaborasi lintas sektor yang semakin kuat, pembangunan Spaceport Biak kembali mendapatkan momentum.
Jika berjalan sesuai rencana, fasilitas ini dapat menjadi tonggak penting yang membawa Indonesia dari sekadar pengguna teknologi antariksa menjadi salah satu pelaku aktif dalam industri luar angkasa dunia. (*)
*Herinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun