Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Mengapa Keluarga Miskin Cenderung Memiliki Banyak Anak? Ini Beragam Faktor yang Memengaruhinya

Tim Magang Radar Madiun • Senin, 22 Juni 2026 | 09:24 WIB

 

Ilustrasi Keluarga Miskin (Compassion Australia)
Ilustrasi Keluarga Miskin (Compassion Australia)

Jawa Pos Radar Madiun - Di berbagai negara berkembang, jumlah anak dalam satu keluarga sering kali lebih banyak dibandingkan negara maju.

Sekilas, kondisi ini mungkin terlihat bertentangan dengan situasi ekonomi yang serba terbatas.

Namun, di balik keputusan memiliki banyak anak terdapat berbagai faktor sosial, budaya, ekonomi, hingga kondisi lingkungan yang saling berkaitan.

Fenomena tersebut tidak dapat dijelaskan hanya dari satu sudut pandang.

Dalam banyak kasus, keluarga menghadapi realitas hidup yang berbeda dengan masyarakat di negara maju,

sehingga memiliki anak lebih banyak dianggap sebagai bagian dari strategi bertahan hidup maupun tradisi yang telah berlangsung lama.

Tingginya Risiko Kematian Anak

Salah satu faktor yang memengaruhi tingginya angka kelahiran di sejumlah negara berkembang adalah masih besarnya risiko kematian anak usia dini.

Baca Juga: NASA Ajak Publik Ikut Terbang Bersama Roman Space Telescope, Apa Misi Besarnya?

Di beberapa wilayah, angka kematian balita masih relatif tinggi sehingga sebagian orang tua memilih memiliki lebih banyak anak sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan tersebut.

Kondisi ini berbeda dengan negara-negara yang memiliki layanan kesehatan lebih baik, di mana peluang anak bertahan hidup hingga dewasa jauh lebih tinggi.

Pendidikan Berperan Menekan Angka Kelahiran
Akses Pendidikan yang Terbatas

Keterbatasan akses pendidikan, terutama bagi perempuan, sering dikaitkan dengan tingginya angka kelahiran.

Semakin rendah tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang, semakin kecil pula peluang memperoleh informasi mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang memperoleh pendidikan lebih lama cenderung menikah pada usia yang lebih matang dan memiliki jumlah anak yang lebih sedikit.

Pendidikan Membuka Lebih Banyak Pilihan Hidup

Selain meningkatkan pengetahuan, pendidikan juga memperluas peluang kerja dan kemandirian ekonomi.

Karena itu, perempuan yang mengenyam pendidikan lebih tinggi umumnya memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan masa depan, termasuk terkait perencanaan keluarga.

Pernikahan Usia Muda Masih Terjadi

Baca Juga: Jangan Salah Pilih! Masih Banyak yang Keliru Memberi Makanan pada Kucing

Di sejumlah negara, perempuan masih diharapkan menjalankan peran utama sebagai istri dan ibu. Akibatnya, pernikahan pada usia muda masih cukup sering terjadi.

Ketika seseorang menikah lebih awal, masa reproduksinya menjadi lebih panjang. Kondisi ini berpotensi meningkatkan jumlah anak yang lahir selama masa pernikahan.

Sulitnya Akses terhadap Kontrasepsi

Banyak perempuan sebenarnya ingin menunda atau membatasi jumlah kelahiran. Namun, keterbatasan akses terhadap alat kontrasepsi sering menjadi hambatan.

Beberapa penyebabnya meliputi:

Akibatnya, perencanaan keluarga menjadi lebih sulit dilakukan.

Anak Dipandang sebagai Penopang Hari Tua
Minimnya Jaminan Sosial

Di sejumlah negara berkembang, sistem pensiun dan jaminan sosial belum menjangkau seluruh masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, anak sering dianggap sebagai sumber dukungan utama ketika orang tua memasuki usia lanjut.

Baca Juga: Nickelodeon Buka Jalan ke Industri Animasi, Ini Program yang Diburu Talenta Muda

Karena alasan tersebut, sebagian keluarga memilih memiliki lebih banyak anak dengan harapan akan ada anggota keluarga yang dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka di masa depan.

Kebutuhan Tenaga Kerja di Pedesaan

Sebagian besar penduduk miskin dunia tinggal di wilayah pedesaan dan menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Aktivitas pertanian tradisional umumnya membutuhkan banyak tenaga kerja.

Karena tidak mampu membayar pekerja tambahan, keluarga sering mengandalkan bantuan anggota keluarga sendiri, termasuk anak-anak.

Dalam konteks ini, keluarga besar dianggap dapat membantu menjaga keberlangsungan usaha pertanian dan sumber penghidupan mereka.

Pengaruh Nilai Agama dan Tradisi

Kepercayaan agama serta norma budaya juga memiliki peran penting dalam menentukan ukuran keluarga.

Di beberapa komunitas, penggunaan kontrasepsi masih dipandang kurang sesuai dengan nilai yang dianut masyarakat.

Baca Juga: Artemis II 2026: Ketika Bumi Terlihat Kecil di Tengah Gelapnya Ruang Angkasa

Selain itu, tradisi yang telah berlangsung turun-temurun sering mendorong keluarga untuk memiliki banyak anak sebagai bagian dari identitas sosial dan budaya mereka.

Fenomena yang Dipengaruhi Banyak Faktor

Jumlah anak dalam sebuah keluarga tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi ekonomi.

Tingginya angka kelahiran di negara berkembang merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari pendidikan, kesehatan, budaya, akses layanan publik, hingga kebutuhan ekonomi keluarga.

Karena itu, memahami fenomena ini memerlukan sudut pandang yang lebih luas.

Setiap keluarga memiliki latar belakang, tantangan, dan pertimbangan yang berbeda dalam mengambil keputusan mengenai jumlah anak yang mereka miliki. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Magang Radar Madiun
#Keluarga Miskin\ #Kemiskinan Global #Angka Kelahiran