Jawa Pos Radar Madiun - Selama tiga dekade lebih, jawaban atas pertanyaan "mobil apa yang paling laku di Indonesia?" selalu berujung pada nama yang sama: Toyota, Honda, atau Daihatsu.
Tapi 2026 menulis cerita yang berbeda.
BYD Atto 3, SUV listrik buatan China, resmi menduduki posisi teratas daftar mobil paling laris di Indonesia sebuah kejutan yang bahkan tidak banyak diprediksi analis otomotif sekalipun.
Bagaimana BYD Atto 3 Bisa Menang?
Kemenangan BYD Atto 3 bukan datang dari satu faktor saja, melainkan kombinasi yang sulit dilawan sekaligus.
Harganya kompetitif untuk segmen SUV, fiturnya kaya dengan teknologi layar besar dan konektivitas modern, dan biaya operasionalnya jauh lebih rendah dibanding mobil bensin konvensional.
Ditambah dengan ekspansi jaringan dealer dan stasiun pengisian daya yang makin masif di kota-kota besar, kekhawatiran tentang "range anxiety" yang dulu menghambat pembelian EV kini semakin mereda.
Baca Juga: Persebaya Kini Punya "Pembunuh" Di Kotak Penalti, Alex Martins Teken Kontrak Hingga 2028
Merek Jepang yang Masih Bertahan di Top 20
Meski kehilangan puncak, merek Jepang tidak lenyap dari daftar.
Toyota masih mendominasi beberapa posisi dengan Avanza, Kijang Innova Zenix, dan Rush yang tetap diminati konsumen yang mengutamakan nilai jual kembali tinggi dan jaringan servis luas.
Honda Brio yang selama bertahun-tahun menjadi primadona segmen LCGC masih bertahan di posisi atas, membuktikan bahwa segmen harga entry-level tetap memiliki basis konsumen yang kuat.
Tren EV yang Semakin Tidak Bisa Diabaikan
Data penjualan 2026 memperlihatkan tren yang sudah tidak bisa lagi disebut "niche": kendaraan listrik dan hybrid kini menguasai porsi yang semakin signifikan dari total pasar otomotif Indonesia.
Selain BYD, merek seperti Wuling, Hyundai Ioniq, dan Chery turut memperkuat posisi kendaraan elektrifikasi di pasar.
Insentif pajak pemerintah untuk kendaraan listrik, subsidi dan kemudahan pengisian daya, serta kesadaran konsumen yang meningkat soal efisiensi biaya menjadi tiga pengungkit utama pertumbuhan ini.
Baca Juga: Profil Bupati Sukoharjo Etik Suryani: Menang Lawan Kotak Kosong, Kini Terjaring OTT KPK
Apa Artinya bagi Konsumen?
Bagi konsumen, persaingan yang semakin ketat antara merek China dan Jepang justru menghadirkan satu keuntungan nyata: pilihan semakin banyak, harga semakin kompetitif, dan teknologi semakin canggih di setiap segmen harga.
Bagi pabrikan Jepang, ini adalah sinyal yang tidak bisa diabaikan: era di mana nama dan reputasi saja cukup untuk menjual mobil sudah berakhir.
Inovasi, bukan nama besar, yang kini menentukan siapa yang berdiri di puncak. (*)
*Auliya Rruliani Puti Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun