Fenomena Angka Kelahiran Turun di Indonesia, Benarkah Bonus Demografi Mulai Berubah?

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 15:30 WIB
Angka Kelahiran di Indonesia Menurun (The Telegraph)
Angka Kelahiran di Indonesia Menurun (The Telegraph)

Jawa Pos Radar Madiun - Indonesia menunjukkan tren penurunan angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa angka kelahiran pada perempuan usia 15–24 tahun terus mengalami penurunan, sejalan dengan melandainya Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksinya.

Fenomena ini menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap struktur penduduk, bonus demografi, hingga kebutuhan tenaga kerja pada masa depan.

Meski demikian, pemerintah menilai penurunan TFR juga mencerminkan semakin baiknya akses masyarakat terhadap pendidikan, layanan kesehatan reproduksi, serta meningkatnya kesadaran dalam merencanakan keluarga.

Baca Juga: Kasus Running Club Bali Jadi Sorotan, Begini Kronologi hingga Dua WN Belanda Dicekal

Apa Itu Total Fertility Rate (TFR)?

Pengertian TFR

Total Fertility Rate (TFR) merupakan indikator demografi yang menunjukkan rata-rata jumlah anak yang diperkirakan akan dilahirkan seorang perempuan sepanjang usia reproduksinya, yaitu antara 15 hingga 49 tahun.

Angka ini sering digunakan untuk melihat laju pertumbuhan penduduk suatu negara. Semakin tinggi TFR, semakin besar pula potensi pertumbuhan jumlah penduduk.

Sebaliknya, TFR yang menurun menunjukkan bahwa rata-rata keluarga memiliki jumlah anak yang lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya.

Mengapa TFR Penting?

TFR menjadi salah satu indikator utama dalam perencanaan pembangunan. Pemerintah menggunakan data ini untuk memperkirakan kebutuhan sekolah, layanan kesehatan, lapangan pekerjaan, hingga kebijakan kependudukan di masa mendatang.

Perubahan TFR juga berpengaruh terhadap komposisi usia penduduk, termasuk jumlah penduduk usia produktif dan lanjut usia.

Angka Kelahiran Perempuan Muda Terus Menurun

Penurunan Terjadi pada Kelompok Usia 15–24 Tahun

Data BPS menunjukkan bahwa perempuan pada kelompok usia 15–19 tahun maupun 20–24 tahun mengalami tren penurunan angka kelahiran dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin banyak perempuan Indonesia yang memilih menunda pernikahan maupun memiliki anak pada usia yang lebih matang.

Selain dipengaruhi perubahan sosial, tren tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya tingkat pendidikan, kesempatan kerja, serta akses terhadap informasi mengenai kesehatan reproduksi.

Pernikahan Semakin Dewasa

Salah satu faktor yang mendorong turunnya angka kelahiran adalah meningkatnya usia rata-rata pernikahan pertama.

Semakin banyak perempuan yang memilih menyelesaikan pendidikan tinggi, membangun karier, atau mempersiapkan kondisi ekonomi sebelum memutuskan membentuk keluarga.

Perubahan pola tersebut turut memengaruhi jumlah kelahiran pada kelompok usia muda.

Baca Juga: Pemkab Magetan Tunggak Iuran JKN ASN Rp 7,5 Miliar, Pelunasan Dilakukan Bertahap

Mengapa TFR Indonesia Melandai?

Pendidikan Berperan Besar

Pendidikan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penurunan angka kelahiran.

Perempuan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi umumnya memiliki akses informasi yang lebih baik mengenai perencanaan keluarga serta lebih matang dalam mengambil keputusan terkait pernikahan dan kehamilan.

Akses Layanan Kesehatan Semakin Baik

Ketersediaan layanan kesehatan reproduksi dan program keluarga berencana juga membantu masyarakat merencanakan jumlah serta jarak kelahiran anak dengan lebih baik.

Hal ini membuat pasangan dapat menentukan waktu yang dianggap paling tepat untuk memiliki keturunan.

Perubahan Kondisi Sosial dan Ekonomi

Biaya pendidikan, kebutuhan tempat tinggal, hingga meningkatnya biaya hidup turut menjadi pertimbangan banyak keluarga modern.

Akibatnya, tidak sedikit pasangan yang memilih memiliki jumlah anak lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya.

Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Pertumbuhan Penduduk Menjadi Lebih Terkendali

Penurunan angka kelahiran membantu menjaga laju pertumbuhan penduduk agar lebih seimbang dengan kemampuan pembangunan nasional.

Kondisi tersebut dapat mendukung peningkatan kualitas hidup apabila diiringi peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan.

Tantangan Menuju Masyarakat Menua

Di sisi lain, TFR yang terus menurun dalam jangka panjang dapat menyebabkan meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia.

Jika jumlah kelahiran terus berkurang tanpa diimbangi peningkatan produktivitas tenaga kerja, Indonesia berpotensi menghadapi tantangan berupa berkurangnya penduduk usia produktif pada masa depan.

Karena itu, pemerintah terus menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penduduk dan pembangunan sumber daya manusia.

Pemerintah Terus Mendorong Keluarga Berkualitas

Pemerintah melalui berbagai program kependudukan tidak hanya berfokus pada jumlah kelahiran, tetapi juga pada kualitas keluarga.

Pendekatan yang dilakukan meliputi edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan perkawinan anak, peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak, serta penguatan program keluarga berencana.

Harapannya, setiap keluarga dapat merencanakan kelahiran secara matang sehingga anak yang lahir memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Penurunan Angka Kelahiran Tidak Selalu Berdampak Negatif

Tren menurunnya angka kelahiran perempuan usia 15–24 tahun menunjukkan adanya perubahan perilaku masyarakat Indonesia menuju perencanaan keluarga yang lebih baik.

Meski TFR yang melandai membawa sejumlah tantangan demografi dalam jangka panjang, kondisi ini juga mencerminkan peningkatan pendidikan, kesehatan, serta kesadaran masyarakat dalam membangun keluarga yang lebih berkualitas.

Kunci utama ke depan adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penduduk, pembangunan ekonomi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar Indonesia tetap mampu memanfaatkan bonus demografi secara optimal. (Mahasiswi Magang Universitas Brawijaya, Sabrina Ika Ayu Wardhani)

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : BPS Indonesia
Angka Kelahiran total fertility rate BPS