Indonesia Dihantam 170 Serangan Siber per Detik, Anda Korban Berikutnya Jika Masih Lakukan Kebiasaan Ini

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:23 WIB
Ilustrasi cyber crime alias kejahatan siber.
Ilustrasi cyber crime alias kejahatan siber.

Jawa Pos Radar Madiun - Ancaman serangan siber di Indonesia semakin serius.

Sepanjang kuartal pertama (Q1) 2026, serangan distributed denial of service (DDoS) dilaporkan melonjak hingga 62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data perusahaan keamanan siber StormWall menunjukkan, sekitar 70 persen serangan DDoS yang membidik target di Indonesia bermotif finansial.

Bahkan, 41 persen di antaranya disertai tuntutan tebusan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sekitar 30 persen.

Gambaran ancaman siber juga terlihat dari data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dirilis Mei lalu.

Indonesia disebut menghadapi sekitar 5 miliar anomali lalu lintas data pada sistem elektronik setiap tahun atau setara 170 serangan siber per detik.

Sektor-sektor kritis menjadi sasaran, mulai perbankan, layanan keuangan hingga kesehatan.

Bukan hanya jumlahnya yang meningkat, durasi serangan di Indonesia juga tercatat lebih panjang dibandingkan rata-rata global.

StormWall mencatat hanya sekitar 62 persen serangan di Indonesia yang berakhir dalam waktu kurang dari lima menit. Secara global, serangan dengan durasi serupa mencapai 78 persen.

Kondisi tersebut membuat ancaman siber tidak lagi hanya menjadi persoalan perusahaan besar maupun instansi pemerintah.

Masyarakat yang hampir setiap hari terhubung dengan layanan digital juga perlu memahami risiko dan cara melindungi perangkat serta data pribadinya.

DDoS Bisa Bikin Server Lumpuh

Pengamat teknologi informasi (TI) Dicky Yuniarto menjelaskan, DDoS merupakan serangan yang bertujuan membuat layanan, situs web, atau server tidak dapat diakses.

Caranya dengan membanjirinya menggunakan lalu lintas data dalam jumlah sangat besar.

Permintaan yang masuk sekilas dapat terlihat seperti aktivitas normal. Namun, lalu lintas tersebut sebenarnya dikirim secara serentak dalam skala masif menggunakan jaringan botnet.

Dicky mengibaratkan DDoS seperti sebuah jalan yang semula lengang, kemudian mendadak dipenuhi kendaraan dalam jumlah sangat banyak.

Kemacetan total akhirnya terjadi sehingga pengguna normal tidak dapat melewati jalan tersebut.

Dalam praktiknya, serangan bisa melibatkan ribuan bahkan jutaan perangkat, mulai komputer, ponsel pintar hingga perangkat Internet of Things (IoT), yang bersamaan mengirim permintaan ke server target.

"Akibatnya, server kehabisan sumber daya dan menjadi lambat atau bahkan mati sehingga situs tidak bisa diakses oleh siapa pun," ujar Dicky.

Namun, Dicky mengingatkan dampak utama DDoS adalah terganggunya layanan atau service disruption, bukan secara langsung mencuri data pribadi.

Persoalan menjadi lebih berbahaya ketika DDoS digunakan sebagai bagian dari serangan gabungan. Peretas dapat menjadikan kelumpuhan server sebagai pengalih perhatian atau smokescreen.

Saat tim keamanan TI sibuk menangani server yang lumpuh, pelaku memanfaatkan celah lain untuk menyusup ke sistem dan mencuri basis data pengguna, termasuk informasi identitas maupun finansial.

Baca Juga: Bertarung di Angkasa, Bandai Namco Merilis Game Baru untuk Franchise Ace Combat

Kebiasaan Sepele Bisa Membuka Celah

Ancaman siber juga bisa berawal dari kebiasaan pengguna sendiri. Menurut Dicky, hal-hal yang dianggap sepele ketika menggunakan perangkat digital dapat membuka peluang bagi pelaku kejahatan siber.

Salah satunya mengeklik tautan mencurigakan yang dikirim melalui pesan, media sosial, surat elektronik, maupun muncul pada layar perangkat.

Penggunaan kata sandi lemah dan jaringan yang tidak aman turut memperbesar risiko.

Kebiasaan lain yang kerap diabaikan adalah langsung memberikan persetujuan penggunaan cookie ketika mengunjungi sebuah situs.

Banyak pengguna secara refleks menekan tombol "Terima Semua" tanpa terlebih dahulu memeriksa pengaturan privasinya.

Pada dasarnya, cookie digunakan antara lain untuk menyimpan atau melacak informasi aktivitas pengguna pada situs.

Informasi tersebut dapat membantu layanan mengenali kebiasaan pengguna dan menyajikan konten yang lebih relevan.

Namun, Dicky mengingatkan data mengenai kebiasaan pengguna dapat menjadi berisiko apabila jatuh ke pihak yang salah.

Informasi mengenai aktivitas daring bisa dimanfaatkan untuk menyusun modus penipuan yang lebih meyakinkan dan terasa personal bagi korbannya.

Baca Juga: Festival Unik Bertema Serangga, Intip Bug Fest yang Merayakan Biodiversitas Serangga di Academy of Natural Sciences

Jangan Asal Klik Tautan

Menghadapi ancaman tersebut, kewaspadaan pengguna menjadi salah satu benteng pertama.

Dicky menyarankan masyarakat tidak terburu-buru mengeklik tautan yang muncul pada ponsel maupun perangkat komputer.

"Jangan asal klik tautan yang muncul di layar smartphone maupun perangkat komputasi lainnya, karena bisa saja tautan tersebut menjadi jalan masuk bagi pelaku kejahatan siber," paparnya.

Pengguna juga disarankan rutin memperbarui sistem operasi, aplikasi, dan perangkat lunak antivirus.

Pembaruan penting karena umumnya membawa perbaikan keamanan untuk menutup kerentanan yang dapat dimanfaatkan pelaku.

Gunakan Password Minimal 14 Karakter

Kata sandi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan akun. Password sederhana atau mudah ditebak membuat akun lebih rentan diambil alih.

Dicky menyarankan penggunaan kata sandi panjang dengan kombinasi karakter yang beragam.

"Kita bisa menggunakan kata sandi minimal 14 karakter dengan kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol untuk memperkuat perlindungan," ungkapnya.

Selain memperkuat kata sandi, masyarakat perlu lebih cermat dalam memberikan izin ketika mengakses situs maupun aplikasi.

Termasuk tidak otomatis menyetujui seluruh cookie tanpa mengetahui jenis data yang akan disimpan atau digunakan.

Kebiasaan membaca pengaturan privasi dan menolak cookie yang tidak diperlukan dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi jejak digital yang tidak perlu.

Di tengah tingginya intensitas ancaman siber, keamanan digital pada akhirnya tidak hanya bergantung pada kecanggihan sistem.

Kebiasaan pengguna ikut menentukan seberapa besar celah yang tersedia bagi pelaku kejahatan siber. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
serangan siber kejahatan siber risiko cara kerja keamanan digital