Jawa Pos Radar Madiun - Hasil pemeringkatan kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) mendadak ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warga mempertanyakan mengapa mereka masuk Desil 9 bahkan Desil 10 meski merasa kondisi ekonominya jauh dari kategori kaya.
Keluhan bermunculan di Threads hingga X.
Cerita yang disampaikan pun beragam, mulai masih tinggal di rumah kontrakan, menumpang bersama orang tua, tidak memiliki mobil, hingga hanya mengandalkan penghasilan keluarga beberapa juta rupiah setiap bulan.
Salah seorang pengguna Threads, misalnya, mengaku masuk Desil 9 meski tinggal di rumah kontrakan tipe 36 dan hanya memiliki sebuah mobil bekas.
Pengguna lainnya mengaku ditempatkan pada Desil 10 kendati keluarganya masih mengontrak dengan penghasilan suami sekitar Rp3 juta per bulan.
Ada pula seorang ibu rumah tangga yang mengaku dirinya dan suami tidak memiliki penghasilan, masih tinggal bersama orang tua, tetapi tercatat dalam Desil 9.
“Bu/Pak, mon maap ini saya pengangguran, gak punya penghasilan, kok bisa-bisanya masuk desil 9? Suami juga sama. Jangankan mobil, rumah aja masih numpang orang tua. Bisa-bisanya masuk kategori orang kaya,” tulis salah seorang pengguna Threads.
Lantas, apakah masuk Desil 9 atau 10 otomatis berarti seseorang tergolong kaya?
Baca Juga: Seleksi CPNS 2026 Jalur Sekolah Kedinasan Segera Dibuka: Jumlah Formasi Capai 4.770
BPS: Desil Bukan Patokan Nominal Gaji
Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan penjelasan mengenai cara membaca desil dalam DTSEN. Salah satu klarifikasi disampaikan melalui akun Threads BPS Cilegon.
BPS menjelaskan desil merupakan pembagian populasi keluarga menjadi sepuluh kelompok dengan jumlah sama besar berdasarkan urutan atau pemeringkatan kondisi sosial ekonominya.
Artinya, tidak terdapat batas nominal penghasilan tertentu yang otomatis membuat sebuah keluarga masuk Desil 1, 5, 9, maupun 10.
“Jadi, dalam pengelompokan desil tidak ada cut off point-nya. Tidak ada penghasilan sekian masuk desil X, atau aset sekian masuk desil Y. Murni berdasarkan pemeringkatan/ranking keluarga,” terang BPS.
Sebagai ilustrasi, apabila terdapat 270 keluarga, seluruhnya terlebih dahulu diurutkan berdasarkan pemeringkatan. Mereka kemudian dibagi menjadi sepuluh kelompok dengan jumlah masing-masing 27 keluarga.
Desil 1 menempati kelompok paling bawah dalam pemeringkatan kondisi sosial ekonomi. Sebaliknya, Desil 10 berada pada kelompok paling atas.
Karena itu, tabel yang beredar di media sosial dan menghubungkan desil dengan nominal gaji tertentu tidak dapat serta-merta dijadikan patokan.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini: Menguat 46 Poin usai Pidato Presiden Prabowo Subianto
Bukan Cuma Gaji yang Dihitung
Hal lain yang perlu dipahami, penilaian tidak semata-mata melihat besarnya penghasilan seseorang.
BPS menyebut pemeringkatan mempertimbangkan berbagai variabel dengan bobot berbeda.
Di antaranya kondisi perumahan dan sanitasi, kepemilikan aset termasuk barang elektronik atau kendaraan, profil demografi dan pendidikan, status pekerjaan dan kepemilikan usaha, hingga akses kesehatan serta fasilitas sosial.
Unit yang dianalisis juga keluarga, bukan individu.
Dengan demikian, seseorang yang sedang tidak bekerja belum tentu otomatis masuk desil bawah. Kondisi sosial ekonomi anggota keluarga lainnya turut menjadi bagian dari pemeringkatan rumah tangga tersebut.
Hal ini pula yang dapat menjelaskan mengapa kondisi yang dirasakan seseorang secara individual belum tentu sama dengan posisi desil keluarganya dalam DTSEN.
Baca Juga: Casio CPA-100D-1AV: Jam Alarm Salat dengan Kalender Hijriah, Waktu Dunia dan Tahan Air 100 Meter
Masuk Desil 10 Bukan Berarti Sekaya Konglomerat
Pertanyaan lain yang ramai muncul adalah mengapa masyarakat dengan kondisi ekonomi yang dianggap biasa dapat masuk Desil 10, kelompok yang sama dengan orang-orang superkaya.
Menurut penjelasan BPS, kondisi tersebut berkaitan dengan karakter desil sebagai kelompok pemeringkatan, bukan kelas pendapatan dengan rentang kekayaan tertentu.
Jumlah keluarga dengan kekayaan sangat ekstrem hanya mengambil bagian kecil dari keseluruhan populasi. Sementara Desil 10 harus mencakup sepuluh persen keluarga yang berada di posisi teratas hasil pemeringkatan.
Akibatnya, rentang kondisi ekonomi di dalam Desil 10 bisa sangat lebar. Keluarga yang berada sedikit di atas batas Desil 9 dapat berada dalam kelompok yang sama dengan masyarakat berpenghasilan sangat tinggi.
BPS menyebut kontras tersebut sekaligus menggambarkan ketimpangan ekonomi yang terjadi.
“Kontras yang begitu tajam di dalam Desil 10 itu sendiri menunjukkan betapa ekstremnya ketimpangan ekonomi di Indonesia,” demikian penjelasan BPS.
Jadi, masuk Desil 10 tidak otomatis berarti sebuah keluarga memiliki kekayaan yang setara dengan konglomerat. Posisi tersebut menunjukkan keluarga berada pada sepuluh persen teratas dalam pemeringkatan yang digunakan DTSEN.
Begitu pula dengan Desil 9. Status tersebut tidak dapat diterjemahkan hanya berdasarkan satu angka gaji bulanan karena pemeringkatan mempertimbangkan berbagai karakteristik keluarga.
Karena itu, hasil desil perlu dibaca sebagai posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya dalam basis data, bukan sebagai label sederhana “miskin” atau “kaya” berdasarkan nominal pendapatan semata. (naz)
Editor : Mizan Ahsani