Jawa Pos Radar Madiun – Kereta Kencana Garuda Prabayaksa kembali menjadi salah satu pusat perhatian dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8).
Kereta megah tersebut bergerak dari kawasan Monas menuju Istana Merdeka, Jakarta, membawa bendera pusaka dan teks proklamasi dalam prosesi Kirab Merah Putih menjelang Upacara HUT RI.
Menariknya, Garuda Prabayaksa bukan kereta kencana lama yang telah digunakan selama puluhan tahun.
Kereta tersebut terbilang baru karena dibuat khusus di Sleman, Yogyakarta, menjelang peringatan HUT ke-80 RI pada 2025.
Setahun berselang, Garuda Prabayaksa kembali mendapat tugas istimewa mengiringi dua simbol penting perjalanan kemerdekaan Indonesia.
Bendera Pusaka Dibawa Bianca Sultana Najwa
Dalam kirab tahun ini, bendera pusaka dibawa Purna Paskibraka Duta Pancasila 2025 Bianca Sultana Najwa, siswi SMAN 82 Jakarta.
Sementara teks proklamasi dipercayakan kepada Aliah Sakira, siswi SMAN 14 Makassar yang juga Purna Paskibraka Duta Pancasila 2025.
Keduanya menaiki Garuda Prabayaksa setelah prosesi penyerahan bendera dan teks proklamasi dilaksanakan di Ruang Kemerdekaan Monas.
Kereta kemudian bergerak menuju Istana Merdeka dengan pengawalan besar.
Sebanyak 45 personel motor kawal Polisi Militer dan Drum Corps Pelopor Cendrawasih Akademi Kepolisian ikut dalam rangkaian tersebut.
Kirab juga dikawal 114 personel Resimen Kavaleri Berkuda Ronggolawe serta 78 pasukan Kerajaan Nusantara, menambah nuansa kolosal sepanjang perjalanan menuju Istana Merdeka.
Sejarah Pembuatan Kereta Kencana Garuda Prabayaksa
Di balik tampilannya yang mencolok, Garuda Prabayaksa memiliki sejarah yang relatif singkat.
Kereta tersebut dibuat khusus di Sleman, Yogyakarta, untuk menjadi bagian dari peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI pada 2025.
Garuda Prabayaksa dirancang untuk membawa duplikat Bendera Negara Sang Merah Putih dan naskah teks proklamasi dalam prosesi dari Monas menuju Istana Merdeka.
Material pembuatannya memadukan kayu jati dengan besi baja tempa. Penggunaan besi baja yang ditempa membawa filosofi mengenai kekuatan bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai ujian.
Kereta tersebut juga dirancang untuk ditarik oleh delapan ekor kuda, membuat penampilannya semakin megah ketika berada dalam rangkaian kirab kenegaraan.
Makna di Balik Nama Garuda Prabayaksa
Nama Garuda Prabayaksa juga menyimpan filosofi tersendiri.
Prabayaksa berasal dari kata praba yang bermakna cahaya dan yaksa yang merujuk pada sesuatu yang besar atau terang. Secara filosofis, nama tersebut membawa makna cahaya besar atau cahaya terang.
Garuda Prabayaksa sekaligus menjadi simbol kepemimpinan yang mengayomi rakyat serta keteguhan bangsa dalam melanjutkan perjalanan setelah kemerdekaan.
Karena itu, keberadaannya dalam kirab bukan semata kendaraan untuk membawa bendera dan teks proklamasi. Kereta tersebut juga menjadi bagian dari simbolisasi perjalanan bangsa.
Kembali Jalankan Tugas Istimewa Setahun Kemudian
Setelah debut pada peringatan HUT ke-80 RI tahun lalu, Garuda Prabayaksa kini kembali menjalankan tugas yang sama pada usia Republik Indonesia yang menginjak 81 tahun.
Kirab tahun ini menjadi bagian dari rangkaian Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 RI dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”
Antusiasme masyarakat pun terlihat sejak dini hari.
Sejumlah warga telah datang dan mengantre sejak subuh untuk mengikuti rangkaian peringatan kemerdekaan di kawasan Istana Merdeka.
Di tengah kemeriahan tersebut, perjalanan Garuda Prabayaksa dari Monas menuju Istana kembali menghadirkan salah satu visual paling simbolis dalam perayaan kemerdekaan. (naz)