Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman karhutla Kalsel semakin serius di tengah cuaca panas ekstrem. Hingga 20 Agustus 2026, sedikitnya 6.905 hektare lahan telah hangus akibat kebakaran hutan dan lahan, sementara 8.764 titik panas atau hotspot terdeteksi.
Situasi tersebut membuat tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan menetapkan siaga darurat karhutla.
Ketujuh daerah itu adalah Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Utara (HSU), dan Tanah Bumbu.
Kepala Pelaksana BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra mengatakan, penetapan status tersebut disesuaikan dengan perkembangan kebakaran yang mulai meluas di masing-masing daerah.
Berdasarkan data BPBD Kalsel hingga 20 Agustus, tercatat 1.651 kejadian karhutla dengan 8.764 hotspot.
“Akibat kejadian ini sekitar 6.905 hektare lahan hangus terbakar,” ujar Ronny.
Banjarbaru Catat 342 Kejadian
Banjarbaru mencatat frekuensi karhutla tertinggi dengan 342 kejadian. Luas lahan yang terdampak mencapai 1.140 hektare.
Sementara dari sisi luas area terdampak, Kabupaten Banjar mencapai 1.496 hektare dari 302 kejadian. Tanah Laut juga mengalami dampak besar dengan 1.384 hektare lahan terdampak dari 272 kejadian.
Cuaca panas ekstrem turut meningkatkan kerawanan kebakaran. Kondisi itu membuat penanganan difokuskan untuk mencegah api menjalar lebih luas.
Pemprov Kalsel membagi wilayah penanganan menjadi tiga area prioritas. Ring satu berada di sekitar Bandara Syamsudin Noor, ring dua mencakup wilayah utara, sedangkan ring tiga berada di wilayah selatan.
“Kami terus melakukan patroli dan pemadaman secepat mungkin. Saat ini kami dibantu 3 unit heli waterbombing dari BNPB, 1 heli patroli, dan 1 pesawat,” ujarnya.
Baca Juga: Jalur Belakang PMB Unsoed Dibongkar KPK: Tarif Mulai Rp 50 Juta, Dikoordinir Guru Sekolah
Lahan Gambut Jadi Tantangan
Operasi pemadaman bukan tanpa kendala. Akses darat menuju sejumlah titik kebakaran sulit ditembus. Sementara operasi helikopter hanya dapat berlangsung hingga pukul 18.00 Wita.
Kondisi tersebut membuat Satgas Darat harus mengambil alih penanganan apabila api belum berhasil dipadamkan hingga malam.
“Jika api belum padam, terpaksa Satgas Darat harus melanjutkan operasi pemadaman di malam hari,” ucap Ronny.
Karakteristik lahan gambut juga menjadi tantangan berat. Api yang terlihat telah padam di permukaan belum tentu benar-benar mati.
Bara dapat tetap menyala di bawah lapisan gambut. Ketika suhu kembali meningkat dan angin bertiup kencang pada keesokan harinya, api berpotensi muncul kembali dan cepat menjalar.
Pemprov Buka Pintu Air
Menghadapi ancaman tersebut, Pemprov Kalsel melakukan pembasahan dan perendaman lahan gambut sebagai langkah mitigasi jangka panjang.
Penanganan melibatkan sejumlah perangkat daerah, termasuk dinas kehutanan, dinas lingkungan hidup, dan dinas pekerjaan umum.
Koordinasi juga dilakukan bersama Balai Wilayah Sungai Kalimantan III untuk membuka sejumlah pintu air.
“Langkah ini difokuskan di area utara bandara seperti sekitar Gunung Damar, Golf Ujung, dan Kurnia, untuk menaikkan tinggi muka air dan menekan risiko kebakaran, di tengah sulitnya mencari sumber air di wilayah selatan,” kata Ronny. (naz)
Editor : Mizan Ahsani