Jawa Pos Radar Madiun - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara terkait nasib utang megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.
Pemerintah mengonfirmasi penggunaan skema restrukturisasi utang dengan tenor yang sangat panjang, yakni mencapai 80 tahun.
Beban cicilan yang harus dibayarkan oleh negara diproyeksikan berada di kisaran Rp1 triliun per tahunnya.
Menurut Purbaya, beban dari skema restrukturisasi terbaru ini ternyata relatif lebih ringan dari perkiraan awal.
Oleh karena itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan kesiapannya untuk menangani kewajiban finansial megaproyek kebanggaan tersebut.
“Total utang besar, tapi sudah direstrukturisasi 80 tahun, cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, ada yang rendah,” kata Purbaya.
Kemenkeu Tunjuk Pengelola Khusus Utang
Sebagai langkah konkret, Purbaya berencana melibatkan perusahaan special vehicle mission (SMV) atau Badan Layanan Umum (BLU).
Lembaga yang berada di bawah naungan langsung Kemenkeu tersebut nantinya akan diberi mandat untuk mengelola utang KCJB.
Saat ini, pemerintah tengah mempertimbangkan dua nama besar, yakni Indonesia Investment Authority (INA) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
Namun, melihat nominal cicilan yang dinilai masih cukup ringan, pemerintah membuka opsi untuk hanya menunjuk satu SMV saja.
“Saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa. Kalau segini saja cukuplah ditangani oleh satu SMV di bawah Kementerian Keuangan,” ujarnya menambahkan.
Purbaya meyakini lembaga di bawah Kemenkeu memiliki kapasitas mumpuni untuk mengelola utang Whoosh secara profesional.
Bahkan, salah satu SMV diproyeksikan mampu membukukan keuntungan fantastis sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun setiap tahunnya.
Pelibatan perusahaan negara dalam restrukturisasi utang Whoosh ini juga diklaim bisa memberikan keuntungan bagi kas negara hingga Rp800 miliar per tahun.
Baca Juga: Spek Dewa Xiaomi 18 Fold: Bodi Tahan Banting, Performa Buas Xring O3, Berapa Harganya?
Sinyal Kuat Ekspansi Rute hingga Jawa Timur
Adapun proses peralihan tanggung jawab pengelolaan utang Whoosh dari Danantara ke Kemenkeu dijadwalkan rampung dalam waktu dekat.
Serah terima pengelolaan aset dan kewajiban tersebut direncanakan akan dieksekusi pada 15 September 2026 mendatang.
Menariknya, setelah diambil alih sepenuhnya oleh pemerintah, Menkeu langsung memasang target ambisius untuk pengembangan infrastruktur.
Jalur kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini direncanakan bakal diperpanjang rutenya hingga menembus wilayah Jawa Timur.
Langkah ekspansi besar ini rupanya sudah mulai dijajaki secara serius oleh pemerintah di tingkat internasional.
“Nanti kami tarik ke Jawa Timur. Kan jadi punya saya (pemerintah), punya SMV kan itu kereta cepatnya. Kami akan tarik ke Jawa Timur. Saya sudah bicara dengan Menteri Keuangan China dan siapa yang berwenang di sana, sepertinya mereka tertarik,” tuturnya.
Baca Juga: Toyota Siapkan Mobil Listrik Lexus Made in China, Diklaim Pakai Teknologi ala Tesla
Daftar Harga Tiket Kereta Cepat Whoosh
Rencana ekspansi ini tentu menjadi angin segar bagi masyarakat Jawa Timur yang mendambakan konektivitas transportasi modern.
Sembari menanti realisasi rute baru tersebut, masyarakat saat ini sudah bisa menikmati layanan Whoosh rute Jakarta-Bandung dengan ragam pilihan kelas.
Berikut adalah daftar harga tiket resmi yang berlaku untuk layanan Kereta Cepat Whoosh:
1. Premium Economy Class:
Berkisar antara Rp150.000 – Rp250.000 (sudah termasuk fasilitas KA feeder ke stasiun Bandung/Cimahi pada rute tertentu).
2. Business Class:
Ditetapkan seharga Rp450.000 untuk pengalaman perjalanan dengan kursi yang lebih lega.
3. First Class:
Ditetapkan seharga Rp600.000 bagi penumpang yang menginginkan kenyamanan dan privasi maksimal sepanjang perjalanan.
(naz)
Editor : Mizan Ahsani