Jawa Pos Radar Madiun - Kabar kerugian dan tumpukan utang yang mendera PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA belakangan ini sukses mengejutkan publik.
Bagaimana tidak, perusahaan yang bermarkas di Kota Madiun ini bukanlah perusahaan berkelas semenjana.
PT INKA merupakan pelopor sekaligus raksasa manufaktur sarana perkeretaapian terintegrasi pertama dan terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Kini, masa depan pabrik kebanggaan warga Madiun tersebut berada di tangan pemegang saham mayoritas terbarunya, yakni PT Danantara Asset Management.
Langkah penyelamatan besar-besaran dari Badan Pengelola BUMN tengah disiapkan agar warisan sejarah industri ini tidak tinggal kenangan.
Baca Juga: PT INKA Rugi Rp 670 Miliar dan Catat Utang Triliunan, Bos Danantara Ungkap Rencana Besarnya
Berawal dari Balai Yasa di Jalan Yos Sudarso
Jejak sejarah PT INKA sangat lekat dengan identitas pembangunan Kota Pendekar.
Kantor pusat sekaligus pabrik perakitannya berdiri megah di atas lahan seluas 22,5 hektare di Jalan Yos Sudarso, Madiun.
Kawasan perakitan industri raksasa ini dahulunya merupakan fasilitas Balai Yasa milik Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).
Pabrik ini diserahterimakan operasionalnya secara penuh dari pihak PJKA kepada manajemen PT INKA pada tanggal 29 Agustus 1981 silam.
Tanggal penyerahan bersejarah itulah yang hingga kini selalu dicatat dan diperingati sebagai hari kelahiran resmi PT INKA.
Dalam perkembangannya, mereka tidak hanya mengurung diri di Madiun.
Perusahaan melebarkan sayap dengan membuka kantor perwakilan strategis di Jakarta dan Bandung.
Langkah ini diambil untuk mendekatkan diri dengan para pengambil kebijakan serta pelanggan utamanya di masa lalu, yakni PJKA (kini PT KAI).
Baca Juga: Rekap Hasil ACL Elite Tadi Malam: Al Nassr Dibantai Al Ain, JDT Ditahan Buriram
Taring Ekspor di Kancah Internasional
Sebagai BUMN yang sangat diandalkan, PT INKA memiliki maksud dan tujuan besar untuk menunjang program ekonomi nasional.
Mereka diwajibkan menghasilkan produk transportasi darat bermutu tinggi dengan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang sehat.
Sebelum dihantam badai finansial yang menggerus keuangan, taring bisnis perusahaan ini terbilang tajam di kancah global.
Produk kereta api buatan anak bangsa dari Madiun sukses mendapatkan pengakuan dan menembus ketatnya pasar ekspor lintas negara.
Gerbong dan lokomotif produksi PT INKA sukses merambah pasar Bangladesh, Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, hingga Australia.
Keberhasilan di pasar internasional ini tidak lepas dari komitmen kuat mereka dalam menyediakan layanan paripurna dan berdaya saing.
Kualitas produksi yang mumpuni selalu dipadukan dengan layanan purnajual (after sales) untuk menjaga kepuasan pelanggan global.
Baca Juga: SMAN 3 Bojonegoro Jadi Kampiun Turnamen Bahlil Minisoccer Zona 5
Perjalanan Panjang Kepemilikan hingga Era Danantara
Siklus kepemimpinan dan payung hukum pengelolaan PT INKA telah mengalami perjalanan yang sangat panjang.
Saat pertama kali diresmikan secara formal pada 18 Mei 1981, perusahaan ini beroperasi di bawah pembinaan teknis Departemen Perhubungan.
Pengelolaannya kemudian beberapa kali berpindah tangan, mulai dari Dewan Pembina Industri Strategis (DPIS) pada 1983, hingga Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) di tahun 1989.
Pada tahun 1998, status INKA beralih menjadi anak perusahaan holding PT Bahana Pakarya Industri Strategis, sebelum akhirnya ditarik ke Kementerian BUMN pada tahun 2002.
Kini, memasuki babak baru sejak 2025, struktur kepemilikan PT INKA kembali mengalami perombakan total.
Sebanyak 99 persen saham Seri B perusahaan saat ini resmi digenggam oleh raksasa investasi pemerintah, PT Danantara Asset Management.
Sementara itu, Negara Republik Indonesia tetap mempertahankan kendali strategis melalui kepemilikan 1 persen saham Seri A Dwiwarna.
Pada September 2026, publik dan dunia industri dikejutkan oleh fakta pahit mengenai kondisi keuangan PT INKA.
Kondisi tersebut diungkapkan secara langsung oleh Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria.
Dony membeberkan bahwa posisi ekuitas perusahaan saat ini berada di angka negatif dengan beban pinjaman yang tidak berkelanjutan mencapai Rp 4,7 triliun.
Bahkan, kerugian yang diderita oleh PT INKA tercatat telah menyentuh angka fantastis, yakni Rp 670 miliar.
Menyikapi kondisi berdarah-darah tersebut, Dony Oskaria menegaskan perlunya transformasi total untuk menyelamatkan muruah perusahaan.
"Kita ingin melakukan turnaround. Dan, turnaround itu hanya bisa dilakukan kalau kita punya komitmen yang sama ingin membuat perusahaan ini menjadi lebih baik, dengan governance yang benar," tegas Dony.
Pembenahan total kini menjadi pertaruhan besar agar marwah PT INKA sebagai raksasa Asia Tenggara tetap terjaga. (naz)
Editor : Mizan Ahsani