Jawa Pos Radar Madiun - Mitos kengerian perairan Masalembu yang kerap dijuluki sebagai Segitiga Bermuda Indonesia kembali mencuat ke permukaan.
Hal ini menyusul insiden nahas tenggelamnya kapal KM Virgo Transport 8 di perairan tersebut beberapa waktu lalu.
Tragedi ini sontak memicu berbagai spekulasi mistis di kalangan masyarakat maupun warganet di media sosial.
Menanggapi kesimpangsiuran tersebut, Pakar Lingkungan Laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr Eng Kriyo Sambodho, akhirnya angkat bicara.
Ia mencoba membedah tragedi maritim ini melalui kacamata sains dan ilmu hidrodinamika laut yang lebih terukur.
Menurut Kriyo, perairan Kepulauan Masalembu di Jawa Timur memang memiliki karakteristik yang sangat dinamis dan berisiko bagi pelayaran.
Baca Juga: Sejarah PT INKA: Raksasa dari Madiun yang Kini Terlilit Utang Triliunan, Nasib di Tangan Danantara
Hantaman Gelombang dan Angin Tenggara
Dinamika ombak yang tinggi di perairan Masalembu ini sangat dipengaruhi oleh siklus pergerakan angin muson barat dan timur.
Selain itu, proses transformasi gelombang di kawasan tersebut kerap menciptakan kondisi laut yang kurang bersahabat (adverse marine conditions).
Berdasarkan data hidrometeorologi saat insiden terjadi, kecepatan angin dari arah tenggara tercatat cukup kencang.
Kecepatan angin berkisar antara 18 hingga 20 knot, dengan embusan tiba-tiba (gust) yang bisa menyentuh angka 27 sampai 30 knot.
Kondisi cuaca ini terjadi berbarengan dengan peningkatan tinggi gelombang signifikan dari 1,7 meter menjadi dua meter.
“Ketinggian gelombang yang mencapai 2 meter saat itu sangat mungkin membuat kapal tidak stabil,” kata Kriyo di Surabaya, Selasa.
Meski BMKG tidak mengklasifikasikannya sebagai cuaca ekstrem, kombinasi alam ini terbukti sangat berbahaya bagi keseimbangan kapal.
Lulusan doktor dari Kyoto University, Jepang tersebut memaparkan bahwa arah datangnya gelombang juga memegang peranan krusial.
“Selain tinggi gelombang, arah angin dan gelombang terhadap posisi kapal dapat menjadi faktor yang mempengaruhi respons kapal ketika berlayar di perairan terbuka,” ujarnya.
Baca Juga: KAI Madiun Running Fest 2026 Sedot 1.500 Pelari dari 14 Provinsi
Arus Kuat dan Kerawanan Ramp Door
Lebih lanjut, Kriyo merinci bahwa periode gelombang di sekitar lokasi kejadian berada pada rentang 7 hingga 8 detik.
Gelombang tersebut datang dari arah tenggara, berbenturan dengan arus laut permukaan berkecepatan 1,0-1,2 knot yang bergerak ke arah barat.
Jika dalam investigasi nanti ditemukan indikasi masuknya air ke lambung kapal, Kriyo menyoroti satu bagian vital yang harus diperiksa secara saksama.
Bagian tersebut adalah ramp door atau pintu rampa, yang berfungsi sebagai akses utama keluar masuknya kendaraan dan muatan logistik.
Kerusakan atau kegagalan penutupan pada pintu raksasa ini bisa berakibat fatal dan membuat kapal kemasukan air dalam volume besar.
Selain faktor hantaman laut dan kebocoran, kemungkinan adanya kegagalan fungsi mesin utama (engine failure) juga tidak boleh dikesampingkan.
Baca Juga: Vanja Bukilic Akui Tak Sabar Nantikan Duel dengan Megawati Hangestri di V-League Musim Ini
Tepis Mitos Kutukan Segitiga Bermuda
Dosen Laboratorium Hidrodinamika Lepas Pantai ITS itu menegaskan bahwa seluruh analisis tersebut masih bersifat evaluasi awal berdasarkan data lingkungan.
Kesimpulan pasti tidak bisa diambil secara terburu-buru sebelum adanya investigasi menyeluruh dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) maupun pihak berwenang.
Proses investigasi resmi mutlak diperlukan untuk membedah kondisi teknis kapal dan riwayat perawatan armadanya.
Oleh karena itu, ia meminta masyarakat luas untuk berhenti mengaitkan tragedi hilangnya KM Virgo Transport 8 ini dengan mitos Segitiga Bermuda Masalembu.
Analisis kecelakaan transportasi laut tidak boleh berlandaskan pada takhayul, melainkan harus berpijak pada data saintifik.
“Penyebab kejadian perlu ditelusuri berdasarkan kondisi lingkungan, teknis kapal, serta hasil investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani