Pemerintah Genjot Perluasan Kebun Tebu untuk Tekan Impor Bensin, Program E20 Dimaksimalkan

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 12:03 WIB
Ilustrasi BBM di SPBU.
Ilustrasi BBM di SPBU.

Jawa Pos Radar Madiun - Pemerintah Indonesia terus mematangkan langkah strategis untuk mewujudkan swasembada energi nasional.

Salah satu jurus andalan yang disiapkan adalah kewajiban penerapan campuran bioetanol sebesar 20 persen pada Bahan Bakar Minyak (BBM) atau disebut program E20.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan kebijakan mandatori E20 ini dapat direalisasikan paling lambat pada tahun 2028 mendatang.

Menurut Bahlil, kebijakan ini sangat krusial untuk menekan tingginya angka impor bensin di Indonesia.

Saat ini, produksi bensin dalam negeri hanya berkisar 14,27 juta kiloliter per tahun, sementara kebutuhan nasional mencapai 37,3 juta kiloliter.

Kesenjangan yang sangat besar ini memaksa Indonesia harus mengimpor bensin hingga 23,03 juta kiloliter setiap tahunnya.

Bahlil menegaskan bahwa program E20 ini harus menggunakan pasokan bioetanol dari dalam negeri, bukan hasil impor dari negara lain.

Demi mewujudkan target tersebut, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk menyiapkan lahan tebu seluas 2 juta hektare.

Lahan tersebut nantinya akan diolah secara khusus untuk memenuhi kebutuhan etanol nasional dalam dua tahun ke depan.

Baca Juga: Jabat Anggota Wantimpres Prabowo, Rocky Gerung Klaim Tetap Independen dan Kritis

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) juga memastikan bahwa perluasan lahan perkebunan tebu ini tidak akan mengganggu ketahanan pangan, khususnya stok gula nasional.

"Kalau kita mau tebu, ya harus buka kebun baru," ujar Zulhas di sela-sela sebuah acara di Jakarta, Selasa lalu.

Selain tebu, Zulhas menyebutkan bahwa pemerintah juga membuka peluang untuk memanfaatkan bahan baku alternatif lain seperti singkong.

Di sektor hilir, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara telah mendapat mandat langsung dari Presiden untuk menyiapkan industri pendukung program E20.

Pemerintah juga berjanji akan memberikan insentif khusus bagi perusahaan yang bersedia membangun pabrik etanol di Indonesia.

Langkah ini mendapat sambutan positif dari dunia industri.

Salah satunya adalah langkah konkret PT Pertamina dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) yang mulai membangun pabrik bioetanol di kawasan Pabrik Gula Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur.

Pabrik berbasis tebu tersebut diproyeksikan mampu memproduksi bioetanol hingga 30 ribu kiloliter per tahun.

Perusahaan otomotif dunia seperti Toyota juga dilaporkan siap mengambil peluang investasi untuk mendukung ketersediaan bioetanol di Tanah Air. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
impor bensin bioetanol e20 BBM kebun tebu