Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Profil KGPH Hangabehi, Kandidat Kuat Penerus Tahta Keraton Surakarta yang Resmi Dinobatkan sebagai PB XIV oleh LDA

Mizan Ahsani • Sabtu, 15 November 2025 | 16:20 WIB
KGPH Mangkubumi, kakak Gusti Purbaya
KGPH Mangkubumi, kakak Gusti Purbaya

Jawa Pos Radar Madiun - Putra tertua Kanjeng Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi, kini menjadi sorotan nasional setelah dinobatkan sebagai kandidat penerus takhta trah Mataram Islam.

Sosoknya diangkat sebagai Pakubuwono XIV oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta. Lantas, siapa sebenarnya KGPH Hangabehi?

Latar Belakang dan Riwayat Hidup KGPH Hangabehi

KGPH Hangabehi merupakan putra sulung almarhum PB XIII dari pernikahannya dengan KRAy Winarni.

Pernikahan tersebut berlangsung sebelum PB XIII naik takhta, dan perceraian keduanya pun terjadi sebelum beliau dilantik sebagai Raja Keraton Surakarta.

Lahir di Surakarta pada 5 Februari 1985, ia memiliki nama kecil Gusti Raden Mas Soerjo Soeharto.

Sebelum menyandang nama Hangabehi, ia lebih dikenal dengan gelar KGPH Mangkubumi, hingga gelar itu diganti pada 24 Desember 2022.

Pendidikan dasar hingga menengahnya ditempuh di Surakarta: SD Pamardisiwi (1995), SMP Kasatriyan (1998), dan SMA Warga (2001).

Ia kemudian menikah dengan Ray Siti Zubaidah dan dikaruniai dua anak: Braj. Arumi Larasati Kusumaningrum dan BRM. Suryo Muhammad Ibrahim.

Kepribadian dan Ketertarikan di Bidang Budaya

Dikenal sebagai pribadi yang tenang dan menjunjung tinggi paugeran atau adat Keraton Surakarta, Hangabehi memiliki ketertarikan mendalam terhadap dunia perkerisan.

Ketertarikan tersebut membawanya ke undangan resmi dari Pemerintah Belanda pada September 2025 untuk menghadiri pameran keris yang digelar oleh Kementerian Kebudayaan negara tersebut.

Dinobatkan sebagai Pakubuwono XIV oleh LDA

Setelah berpulangnya PB XIII, KGPH Hangabehi muncul sebagai kandidat kuat penerus takhta Keraton Surakarta.

Pada Kamis, 13 November 2025, Lembaga Dewan Adat resmi menobatkannya sebagai Pakubuwono XIV di Sasana Handrawina.

Namun, penobatan tersebut memunculkan dualisme. Sebab, sehari sebelumnya, Rabu (5/11/2025), putra mahkota KGPH Purbaya dikenal juga sebagai Gusti Purbaya atau KGPAA Hamangkunegoro telah mendeklarasikan diri sebagai PB XIV sesaat sebelum jenazah PB XIII diberangkatkan.

Ketegangan dalam Prosesi Penobatan

Penetapan KGPH Hangabehi oleh LDA sempat diwarnai ketegangan. Putri sulung PB XIII, GKR Timoer Rumbai, datang ke Sasana Handrawina bersama adik-adiknya untuk menyampaikan keberatan.

KGPH Suryo Wicaksono menjelaskan kepada TribunSolo.com, “Di mana Gusti Timoer dan adik-adiknya menyerbu Handrawina, tempat acara kita. Mereka mengatakan acara ini bertentangan dengan komunikasi internal mereka sebelumnya.”

Ia menambahkan bahwa penobatan Hangabehi tetap berlangsung di hadapan keluarga besar keraton.

“Penobatan PB XIV disaksikan oleh para Sentono dan kerabat maupun para sesepuh keraton,” ujarnya.

Prosesi tersebut juga dihadiri oleh Maha Menteri Keraton Solo, KGPA Tedjowulan, yang saat ini bertugas sebagai raja ad interim berdasarkan surat penugasan dari Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.

Dengan dua deklarasi berbeda, Keraton Solo kini berada dalam situasi dualisme takhta antara KGPH Hangabehi dan KGPH Purbaya.

Kondisi ini menjadi perhatian publik, mengingat posisi Pakubuwono merupakan simbol penting warisan budaya dan sejarah Mataram Islam.

(*/naz)
Penulis: Nazala Syifa Julieta/Politeknik Negeri Madiun

Editor : Mizan Ahsani
#Keraton #keraton solo #trah mataram #Lembaga Dewan Adat #keraton surakarta #KGPH Hangabehi #Takhta #konflik #PB XIII #islam #Pakubuwono XIV