Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Rangkul Pemabuk, Gus Danang Tularkan Ilmu Agama lewat Kesenian Reyog

Administrator • Selasa, 7 Mei 2019 | 18:21 WIB
Photo
Photo

NGAWI - Gus Danang Bento punya masa lalu yang kelam. Setelah bertobat dan menimba ilmu agama, sejumlah pemabuk dan preman di kampung halaman dirangkulnya untuk belajar agama. Kesenian reyog dipakainya sebagai media menularkan ajaran Islam.


Empat tahun sudah Pondok Pesantren (Ponpes) Ngawitan Kanjeng Sunan Kalijogo berdiri. Ponpes yang berlokasi di Desa Walikukun, Kecamataman Widodaren, itu, dipimpin Gus Danang Bento. Seorang pria yang dulunya sempat terjerumus ke lubang hitam, mengonsumsi obat-obatan terlarang.


Tak ingin hal serupa terjadi ke orang lain, Gus Danang Bento merangkul sejumlah pemabuk dan preman untuk belajar agama. ‘’Bento itu kepanjangan dari bengkel tobat,’’ kata pria bernama asli Danang Agung Nugroho itu.


Bersamaan momen Ramadan, Gus Danang Bento beserta belasan santri di ponpesnya berlomba-lomba meningkatkan ibadah. Sejak hari pertama puasa, tujuh surat menjadi bacaan wajib mulai pukul 16.00. ‘’Setelah itu, bisa latihan reyog atau olahraga bagi yang ingin. Rencananya nanti juga akan ngabuburit sambil main reyog dan tari sufi di jalan. Jadwalnya menyusul,’’ ungkapnya.


Gus Danang Bento saat ini memiliki 15 santri yang menetap di ponpesnya. Itu belum termasuk lebih dari 500 majelis atau santri kalong yang tersebar di beberapa wilayah Bumi Orek-Orek. Agenda pengajian rutin dan berbagi ilmu agama dari satu tempat ke tempat lain menjadi kesehariannya sekarang.


‘’Hidup sekali harus berarti. Hidup sesaat harus manfaat. Hidup sekilas harus ikhlas. Dan sesuai hadis Rasulullah SAW, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,’’ tutur pria 37 itu.


Jauh sebelum seperti sekarang, Gus Danang Bento punya masa lalu yang kelam. Dia sempat diklaim meninggal dunia selama 3,5 jam lantaran overdosis akibat obat-obatan terlarang. Kondisi tersebut menjadi hidayah baginya. Titik balik itulah yang mengantarnya menuju gerbang kesadaran.


Matanya terpejam sejenak mengenang peristiwa yang dialaminya pada 2001 silam itu. Dia merasakan candu yang tak tertahankan sesaat sebelum klaim meninggal dunia disematkan kepadanya. ‘’Saya sempat kuliah D1 di Solo, tidak lulus gara-gara itu juga,’’ kenangnya.


Hatinya lantas terketuk seiring terbukanya mata setelah mati suri. Beranjak dari Solo, dia kembali ke kampung halaman di Desa Walikukun. Sedikit demi sedikit, ilmu religi diselaminya selama satu tahun sembari memulihkan kondisi badan.


Asupan religi mulai dikenyamnya setelah kejadian tersebut. Bersamaan dengan itu, dia terjun menyelami kesenian reyog di Jember. ‘’Waktu kuliah dulu ikut UKM (unit kegiatan mahasiswa, Red) reyog di Unej (Universitas Jember),’’ ungkapnya.


Sekembalinya dari Jember pada 2008, terbesit di benaknya untuk berbuat sesuatu. Keinginan itu terpantik saat melihat sejumlah warga yang kerap mabuk-mabukan. Danang lantas merangkul pelan-pelan penggemar miras di kampung halamannya Desa Walikukun, Widodaren, Ngawi. Gayung bersambut, sebanyak 60 pemabuk sudi diajak nyantri. ‘’Saya ajak tobat. Caranya dengan berkesenian reyog,’’ tuturnya.


Suka duka dirasakan Gus Danang Bento kala itu. Merangkul pemabuk agar bisa meresakan basuhan air wudu, tidak semudah membelajari ngaji mereka yang memang sudah memiliki niat bertobat. Kendati begitu, kesenian reyog yang dikuasainya punya andil tersendiri.


Dia berceramah dan berdakwah sembari melatih mbarong, njatil, dan menabuh gamelan. Semua dilakoninya sendiri. Dari yang semula awam sampai luwes mempraktikkan beragam muatan kesenian reyog. ‘’Maklum, semuanya butuh proses,’’ ujarnya.


Suami Dwi Ary Wardhani ini tak patah arang merangkul puluhan pemabuk. Jurus Sunan Kalijogo yang menyebarkan ajaran agama Islam melalui wayang kulit, diadopsinya. Gus Danang Bento melakukan pendekatan menggunakan kesenian reyog. Pendekatan itu ternyata ampuh. Sejumlah pemabuk mulai fokus berkesenian sekaligus beragama.


Namun, layaknya orang sakit, ada yang bisa sembuh, ada yang tidak. Begitu pula yang dialaminya saat merangkul sejumlah pemabuk dan preman untuk belajar agama. ‘’Ada yang sembuh total, ada juga yang kumatan,’’ ujar ayah dua anak ini.


Gus Danang Bento kukuh dengan pendirian dan keyakinannya. Pada 2015, sebidang lahan di kampung halamannya berhasil ditebus. Tanah itu diwakafkan. Pondok pesantren Ngawitan Kanjeng Sunan Kalijogo pun dibangun. Sampai saat ini sudah ratusan santri belajar agama di ponpes tersebut. ‘’Beberapa santri menetap di sini. Yang kemudian jadi pelatih reyog di Jakarta juga ada,’’ ungkapnya.


Referensi kesenian reyog ditularkannya kepada pemabuk yang hendak tobat. Berjalan berkesinambungan, sebuah sanggar reyog terlahir. Sardulo Seto Menggolo namanya. Seluruh pemain dan penabuh gamelan tidak lain santri-santri mantan pemabuk yang dirangkulnya. ‘’Ya belajar berkesenian, ya belajar ilmu agama juga,’’ ucapnya.


Apa yang dilakukan Gus Danang Bento tidak berjalan mulus begitu saja. Salah satunya ketika ada nyinyiran terkait metode yang diterapkan. Merangkul para pemabuk, lantas mendekati dengan kesenian reyog sempat mengundang pendapat yang mengusik telinga. Dia pernah dicap musrik dengan apa yang dilakukannya. Kendati demikian, dia bergeming. ‘’Bagaimanapun, tujuannya tetap sama,’’ ujarnya.


Kini predikat gus melekat kepada sosok pria yang notabene bergelar sarjana ekonomi itu. Ijazah ilmu akuntansi yang diperolehnya dari Unej kalah terang dengan kiprahnya merangkul para pemabuk. Dia berterus terang bahwa ketika di Jember, rutin menemui beberapa kiai sembari berkuliah dan ikut UKM reyog. ‘’Saya bisa seperti itu ada penyebabnya juga,’’ imbuhnya. ***(isd)

Editor : Administrator
#jawa pos #radar madiun #jawa pos radar madiun #berita ngawi