Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Dulu Rp 2.000 Dapat Tiga, Kini Tempe Goreng Satu Biji Rp 1.000

Hengky Ristanto • Sabtu, 19 Maret 2022 | 19:36 WIB
BERTAHAN: Pedagang gorengan di Jalan Panjaitan yang menjual dagangan lebih mahal imbas mahalnya harga minyak goreng. (FAIZAL AMJAD/JAWA POS RADAR NGAWI)
BERTAHAN: Pedagang gorengan di Jalan Panjaitan yang menjual dagangan lebih mahal imbas mahalnya harga minyak goreng. (FAIZAL AMJAD/JAWA POS RADAR NGAWI)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Pedagang gorengan di wilayah perkotaan Ngawi belakangan mulai susah dicari. Tinggal segelintir pelaku usaha kecil yang mangkal di sejumlah penggal jalan protokol itu. Fenomena tersebut diduga dampak pencabutan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng (migor) kemasan Rp 14 ribu per liter. ‘’Mungkin saja tidak berjualan karena harga migor sekarang mahal,’’ kata Nur Isnaini, pedangan gorengan di Jalan Panjaitan, Sabtu (19/3).


Nihil pedagang gorengan di lima ruas jalan yang dilewati wartawan koran ini sekitar pukul 15.00 kemarin. Meliputi Jalan Trunojoyo, Dokter Wahidin, Ronggowarsito, Ahmad Yani, dan kawasan Alun-Alun Merdeka. Padahal, ruas tersebut biasanya dipenuhi pedagang gorengan. ‘’Kalau saya tetap berjualan, tapi menaikkan harga,’’ ujar Isnaini yang tinggal di Desa Jururejo.


Dia biasanya menjual gorengan seharga Rp 2.000 per tiga biji. Ada tahu, tempe, bakwan, dan pisang. Namun, saat ini semuanya dinaikkan menjadi Rp 1.000 per biji. Langkah tersebut terpaksa dilakukan demi mendapatkan keuntungan. Kendati sempat khawatir bakal ditinggal pelanggan. ‘’Saya serbabingung, kalau tidak dinaikkan rugi atau dapatnya cuma capek,’’ ungkapnya.


Perempuan 30 tahun itu setiap hari butuh empat liter migor untuk menggoreng. Biasanya beli dua liter Rp 28 ribu, kini menjadi Rp 50 ribu. ‘’Di toko atau pasar harganya sama saja,’’ ucapnya.


Setali tiga uang dengan industri keripik tempe. Juminten, pengusaha keripik tempe Desa Karangtengah Prandon, menaikkan harga Rp 2.000 per bungkus. Imbasnya, omzetnya menurun lantaran ada pengurangan jumlah pembeli dan kuantitas. ‘’Lebih baik menaikkan harga ketimbang mengubah ukuran tempe menjadi lebih kecil,’’ ujarnya.


Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi Yusuf Rosyadi mengaku tidak bisa berbuat banyak. Intervensi harga tidak bisa lagi dilakukan lantaran Kementerian Perdagangan telah mencabut subsidi. ‘’Pelaku UMKM dapat membeli migor curah yang harganya Rp 14 ribu per liter,’’ tuturnya. (tr1/c1/cor/her)

Editor : Hengky Ristanto
#minyak goreng #tempe #ngawi