NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Obat simtomatik untuk hewan ternak terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di Ngawi susah dicari. Angga Prasetyo, salah seorang peternak dari Desa Karangasri, mengaku kesulitan membelinya.
Kelangkaan itu membuatnya beralih menggunakan obat yang umumnya ditenggak manusia ketika demam. ''Khawatir ternak mati kalau tidak segera diobati,'' kata Angga, Rabu (29/6).
Sembilan ekor sapi milik Angga terjangkit PMK. Dia memberikan parasetamol untuk menurunkan demam setiap hari. Obat tersebut dimasukkan dalam botol lalu diminumkan ke sapi. Sedangkan luka pada mulut diolesi boraks dan di kaki diberi formalin. ''Sejauh ini obat-obatannya berfungsi, khususnya meredakan demam,'' ujarnya.
Imam Nasrulloh, ketua Fraksi Golkar DPRD Ngawi, menerima banyak keluhan peternak yang kesulitan mencari obat-obatan untuk PMK. Ada yang berburu sampai Kota Madiun dan Sragen, Jawa Tengah, namun pulang dengan tangan kosong. Karena tidak ada pilihan lain, peternak akhirnya beralih ke obat-obatan yang biasa dikonsumsi manusia. ‘’Malah bisa menjadi masalah kalau obat tersebut tidak baik untuk hewan,’’ ujarnya.
Imam mendorong dinas perikanan dan peternakan gerak cepat melakukan penanganan PMK. Khususnya penyediaan obat-obatan antibiotik dan vitamin. Surat edaran Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terkait status darurat PMK menjadi dasar mengeksekusi belanja tidak terduga (BTT). ‘’Harus lebih taktis dan strategis agar tidak banyak yang dirugikan,’’ tuturnya. (sae/c1/cor)
Editor : Hengky Ristanto