Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kisah Gaza Aditya, Aremania Ngawi yang Selamat dari Tragedi Kanjuruhan

Hengky Ristanto • Selasa, 4 Oktober 2022 | 18:04 WIB
SELAMAT DARI MAUT: Gaza Aditya, warga Desa/Kecamatan Karangjati, Ngawi, selfie bersama dua temannya di tribun atas gate 10 Stadion Kanjuruhan, Sabtu lalu. (GAZA ADITYA UNTUK JAWA POS RADAR NGAWI)
SELAMAT DARI MAUT: Gaza Aditya, warga Desa/Kecamatan Karangjati, Ngawi, selfie bersama dua temannya di tribun atas gate 10 Stadion Kanjuruhan, Sabtu lalu. (GAZA ADITYA UNTUK JAWA POS RADAR NGAWI)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Pengalaman menonton laga Arema FC lawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/9) lalu bakal membekas di sepanjang hayat Gaza Aditya. Ajudan Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko itu nyaris menjadi korban kerusuhan terburuk kedua sepanjang sejarah sepak bola.


-------------


Duduk di tribun gate 10 Stadion Kanjuruhan, perasaan pemuda 24 tahun itu mulai tidak enak ketika melihat polisi menembakkan gas air mata di tengah lapangan. Dua temannya langsung diajak meninggalkan stadion yang berada di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, tersebut.


Akan tetapi, pintu gerbang di barisan tempatnya menonton itu sudah sesak penonton lainnya. Tak mau ikut berdesak-desakan, dia lantas bergegas menuju pintu gate 9 yang lebih dekat. ‘’Saya dan teman-teman berhasil keluar stadion,’’ kata Gaza Aditya, warga Desa/Kecamatan Karangjati, Ngawi, tersebut.


Gaza dan teman-temannya bergegas menuju tempat parkir mobil dan meninggalkan kawasan Stadion Kanjuruhan. Karena pintu keluar telah dipenuhi Aremania, mereka terpaksa memutar lewat persawahan di belakang stadion. Di saat bersamaan, lini masa salah satu media sosialnya muncul potongan video penembakan gas air mata ke arah gate 10. Penembakan itu membuat suporter panik ingin keluar stadion hingga akhirnya terinjak-injak. ‘’Gas air matanya ditembakkan ke arah sekitar 10 meter dari tempat saya menonton,’’ ujarnya.


Gaza sulit membayangkan seandainya dia tidak segera keluar ketika gas air mata pertama ditembakkan ke tengah lapangan. Sebab, suporter yang meninggal banyak yang berasal dari gate 10. Karena sering nribun, aparatur sipil negara (ASN) itu paham pengendalian massa dengan gas air mata akan berujung chaos. ‘’Biasanya cukup dengan pemadaman lampu yang menyorot ke lapangan, suporter yang turun akan keluar dengan sendirinya,’’ ucap ajudan Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko tersebut.


Niat menonton laga superderbi Jawa Timur itu muncul di benak Gaza pada Sabtu siang. Aremania sejak kelas IX SMA itu berangkat bersama dua temannya, Faris dan Apsari. Kebetulan hari itu sedang lepas dinas. Berangkat pukul 15.30 mengendarai mobil, ketiganya tiba terlambat di Stadion Kanjuruhan pukul 20.15.


Pertandingan telah berjalan 15 menit. Dengan susah payah, tiket masuk pun diperoleh. Dari total 15 gate, hanya pintu gate 10 yang masih dibuka. Setelah masuk stadion, kondisinya sudah penuh penonton. Gaza dkk mendapatkan tempat di tribun paling atas.


Skor akhir 3-2 dengan kekalahan Arema membuat para pemain Singo Edan dan jajaran pelatih menuju tengah lapangan untuk minta maaf. ‘’Nah, saat itu ada beberapa suporter turun untuk mengutarakan kekecewaan dan lambat laun banyak yang ikut turun,’’ ungkapnya.


Aksi suporter turun lapangan direspons pihak keamanan. Mulai dari match steward, polisi, hingga TNI. Situasi di tengah lapangan semakin tak terkondisikan. Dan, seperti yang diketahui, cerita selanjutnya begitu memilukan. *** (cor/c1)

Editor : Hengky Ristanto
#Tragedi Kanjuruhan #Aremania #gas air mata #kericuhan Stadion Kanjuruhan #Arema FC vs Persebaya