NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Gadget membuat seisi dunia seolah berada dalam genggaman. Namun, sebagian warga Dusun Bulak Pepe, Desa Banyubiru, Widodaren, memilih tidak terlalu larut dalam perkembangan zaman. Mereka beternak kerbau meneruskan kebiasaan leluhurnya.
Pelestarian tradisi itu berujung pada sebutan wilayah setempat sebagai Kampung Kerbau. ‘’Walau zaman sudah maju, tradisi memelihara kerbau masih sangat kental karena bentuk investasi,’’ kata Subandi, 45, salah seorang warga yang beternak kerbau, kemarin (25/10).
Ada sekitar 600 ekor kerbau di desa berpenduduk 475 kepala keluarga (KK) ini. Selain hasil bertani, banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari binatang ternak jenis ruminansia itu. Kebanyakan peternak akan menjual kerbaunya ketika butuh uang untuk keperluan mendesak. ‘’Satu KK bisa memiliki lebih dari dua ekor kerbau,’’ ungkapnya.
Subandi mengungkapkan, proses ternak kerbau masih dengan cara menggembala. Kerbau ternaknya dibawa ke area padang rumput dan hutan jati dua kali sehari. Semisal sedang sibuk, ada orang khusus yang menawarkan jasa menggembala.
Sebelum masuk kandang, kerbau tersebut dimandikan di aliran sungai desa setempat. Padang rumput cukup luas dan air sungai melimpah menjadi alasan ternak kerbau di desanya urung sirna. ‘’Anugerah sumber pakannya melimpah sejak zaman nenek moyang,’’ tuturnya.
Dia mengatakan, ratusan ekor kerbau milik warga tinggal dalam satu kandang komunal. Lokasinya cukup jauh dari permukiman. Warga menyadari gangguan kesehatan lingkungan jika banyak kerbau dipelihara di rumah. Apalagi, wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) belum sirna. ‘’Alhamdulillah semua kerbau sudah divaksin,’’ ujarnya. (sae/cor) Editor : Hengky Ristanto