Dari alokasi Rp 2,46 triliun, baru terserap Rp 1,66 triliun. Padahal, tutup buku anggaran kurang dari satu setengah bulan. ‘’Serapan di sejumlah perangkat daerah masih minim,’’ kata Kepala Badan Keuangan (Bakeu) Ngawi Tri Pujo Handono, Selasa (21/11).
Pujo belum bisa memastikan serapan belanja menyentuh 90 persen bulan depan. Pihaknya hanya bisa mendorong perangkat daerah memaksimalkan sisa waktu yang mepet ini.
Misalnya, dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR) baru membelanjakan 54,3 persen dari total anggaran. Lalu, dinas kesehatan (dinkes) yang masih menyerap 55,4 persen. ‘’Serapan rendah karena beberapa proyek fisiknya masih berjalan,’’ ujarnya.
Dia menyampaikan bahwa serapan belanja daerah tidak bisa 100 persen. Sebab ada penghematan dari proses pengadaan barang dan jasa. Dananya masuk kas daerah (kasda) sebagai sisa lebih perhitungan anggaran (silpa).
Selain itu anggaran pos belanja tidak terduga tidak terserap bila tidak terjadi kondisi darurat. ‘’Silpa ini menjadi kekuatan anggaran tahun depan,’’ ucapnya.
Sementara realisasi pendapatan daerah agak melegakan. Dari target Rp 2,2 triliun telah tercapai Rp 1,8 triliun. Persentasenya mencapai 82 persen. ‘’Capaiannya sesuai dengan perkiraan waktu,’’ kata Pujo. (sae/cor) Editor : Hengky Ristanto