Rehabilitasi bangunan bekas Plaza Ngawi itu termasuk proyek non-infrastruktur jalan dari kesepuluh paket tersebut. ‘’Sepuluh paket proyek ini perlu pengawasan ketat karena nominal anggarannya tidak sedikit,’’ kata Kabag Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah (Setda) Ngawi Mamik Subagyo, Minggu (29/1).
Mamik mengatakan, proyek strategis pengawasannya khusus. Review berlapis tiga dalam penentuan harga perkiraan sendiri (HPS). Diawali kelompok kerja (pokja) bagian pengadaan barang dan jasa. Sebelum akhirnya dicek inspektorat. Kemudian pokja akan meninjaunya kembali. ''Kalau sudah beres baru siap untuk dilelang,'' ujarnya.
Dia menerangkan, review guna memastikan HPS sesuai harga di pasaran. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) biasanya menggunakan proyek strategis sebagai memeriksa proyek lainnya. ‘’Jadi ya pengawasannya harus lebih ketat,'' tegasnya.
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menyatakan, proses penyusunan perencanaan, detail engineering design (DED), dan pemilihan konsultan pengawas didampingi inspektorat. Rekanan terpilih nantinya harus memenuhi aspek administrasi dan kualifikasi. ''Kaena dengan anggaran besar, manfaat yang diterima masyarakat juga harus maksimal,'' tuturnya. (sae/cor)
10 PAKET STRATEGIS 2023
- Pembangunan MPP tahap II (Rp 20 miliar)
- Rekonstruksi Jalan Walikukun-Kedunggalar (Rp 18,3 miliar)
- Rekonstruksi Jalan Banyuurip-Gunungsari (Rp 16,5 miliar)
- Rekonstruksi Jalan Pitu-Ngancar (Rp 15,3 miliar)
- Pekerjaan Pembangunan Puskesmas Pitu Rp (14,2 miliar)
- Rekonstruksi Jalan Pandean-Jatimulyo tahap II (Rp 9,2 miliar)
- Pemeliharaan Berkala Jalan Pocol-Wonosari (Rp 8,6 miliar)
- Rekonstruksi Jalan Mojo-Ploso Lor (Rp 8,4 miliar)
- Penggantian Jembatan Guyung, Jalan Tepas-Kayut (Rp 6,3 miliar)
- Rehabilitasi Irigasi Sambi (Rp 1,6 miliar)
Sumber: Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Setda Ngawi Editor : Hengky Ristanto