Benda asing itu disinyalir patahan ujung sabit. Senjata tajam (sajam) tersebut diduga digunakan WS, 58, untuk melukai ibu satu anak itu, Rabu (17/5) lalu. ‘’Korban dirujuk ke Madiun untuk tindakan pengambilan logam,’’ kata Ipda Hambar Agus Susila, kanit perlindungan perempuan dan anak (PPA) Satreskrim Polres Ngawi.
Ambar, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa dugaan patahan sabit berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP). Ujung sajam yang ditemukan di dekat tubuh WS tergeletak dalam kondisi rompal. Pihaknya akan melakukan pencocokan ketika logam itu berhasil dicabut. ‘’Nantinya jadi bahan tambahan penyelidikan,’’ ujarnya.
Dia menyampaikan bahwa kondisi HW mulai stabil. Korban dapat merasakan luka sayatan di kepala yang terdapat logam. Namun demikian, penyelidik belum bisa memintai keterangan ihwal kejadian pembacokan yang dialaminya. ‘’Kami tunggu sampai benar-benar pulih,’’ ucapnya.
Polisi sementara menduga WS merupakan terduga pelaku pembacokan. Ketua RT itu diduga coba bunuh diri dengan melukai pergelangan tangan kiri. Luka pria yang kini dirawat di intensive care unit (ICU) RSUD dr Soeroto itu cukup fatal. Tulang besarnya sudah putus. ‘’Terduga pelaku juga belum bisa dimintai keterangan,’’ ujar Ambar.
Terpisah, Direktur RSUD dr Soeroto Agus Priyambodo menyatakan, WS dioperasi Rabu malam. Penanganan darurat untuk pergelangan tangannya yang nyaris putus dan luka kepala. ‘’Kondisinya stabil, bisa diajak komunikasi dua arah, tapi masih perlu diobservasi,’’ katanya.
Sebelumnya, WS dan HW diduga berselingkuh. Informasi hubungan terlarang itu diperoleh polisi dari keterangan salah satu perangkat desa. Motif terduga pelaku nekat membacok disinyalir karena perasaan jengkel. HW disebut berusaha mengakhiri perselingkuhannya selama setengah tahun dengan bapak dua anak tersebut. (sae/cor) Editor : Hengky Ristanto