Kalangan pemerhati sejarah di Ngawi mendorong pemerintah melakukan kajian terhadap dua makam bernama Kertonegoro di Ngawi dan Magetan. Nama yang sama itu disebut membuat masyarakat kebingungan.
Di masa lalu, kedua daerah itu pernah dipimpin orang yang sama, yakni Adipati Kertonegoro. ‘’Mengkaji makam Kertonegoro di Ngawi dan Magetan itu adalah orang yang sama atau beda,’’ kata Agung Kusumo Wahyu Wibowo, salah seorang pemerhati sejarah Ngawi, kemarin (4/6).
Merunut sejarah, Adipati Kertonegoro menjadi bupati ketiga Ngawi pada periode 1834–1837. Setelahnya menjabat bupati Magetan di rentang 1837–1852. Di Ngawi, makam Kertonegoro berada di Dusun Sarean, Desa/Kecamatan Sine.
Sementara di Magetan, terletak di Kelurahan Kepolorejo, Kecamatan Magetan. ‘’Perlu mencari referensi yang valid,’’ ujarnya.
Agung meyakini makam Adipati Kertonegoro yang sesungguhnya di Sine. Keyakinannya itu berdasarkan cerita turun temurun masyarakat. Saat ini, peziarahnya bukan hanya warga sekitar.
Namun juga para bupati penerusnya ketika peringatan hari jadi setiap 7 Juni. ‘’Untuk memastikannya, Pemkab Ngawi maupun Pemkab Magetan harus melakukan kajian sejarah,’’ ucapnya.
Suyatno, juru kunci makam Kertonegoro di Sine, menambahkan bahwa makam yang dijaganya merupakan milik Adipati Kertonegoro. Sebab di sekelilingnya terdapat banyak makam tua dengan batu nisan batu mirip era Mataram Islam. ‘’Dari cerita-cerita orang dulu, Adipati Kertonegoro menepi ke pinggir lereng Gunung Lawu sisi utara hingga akhirnya wafat,’’ ungkapnya. (sae/cor) Editor : Hengky Ristanto