‘’Kami ingin memastikan hewan yang rata-rata untuk kurban ini bebas dari PMK (penyakit mulut dan kuku) dan LSD (lumpy skin disease),’’ kata Plt Kepala DPP Ngawi Supardi.
Supardi menyebutkan sekitar 500 ekor sapi dan kambing diperiksa Ante-mortem. Tim dokter hewan mengecek ada tidaknya bagian tubuh ternak yang cacat. Juga mendeteksi gejala klinis penyakit menular hewan.
‘’Hasilnya, nihil hewan yang sakit dan layak untuk dijualbelikan,’’ ujarnya.
Menurut dia, tiada laporan penambahan kasus PMK sejak April lalu. Namun, wabah itu tetap perlu diantisipasi. Sebab banyak ternak dari daerah lain yang masuk ke kabupaten ini. Di sisi lain, pihaknya memberikan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) untuk ternak yang dijual ke luar daerah.
‘’SKKH sebagai tanda kalau ternaknya dalam kondisi sehat,’’ ujarnya.
Antisipasi persebaran PMK juga melalui vaksinasi. Hingga kemarin, 137.817 ekor ternak divaksin. ‘’Vaksinasi diharapkan dapat membuat wabah PMK hilang dan bisnis peternakan berangsur pulih,’’ pungkas Supardi. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto