NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Para petugas pemadam kebakaran (damkar) Satpol PP Ngawi harus berjibaku seharian kemarin (19/7). Pasalnya, tim bermoto pantang pulang sebelum padam itu harus memadamkan api di tiga tempat kejadian perkara (TKP) berbeda.
Kendati nihil korban jiwa dan dapat tertangani dengan baik. Rentetan peristiwa tersebut seolah menjadi pengingat bahwa musim kemarau rawan terjadi kebakaran. ''Potensinya sangat tinggi,'' kata Kabid Pemadam Kebakaran Satpol PP Ngawi Tri Bimo.
Bimo menerangkan, meningkatnya potensi kebakaran karena faktor cuaca panas. Kencangnya embusan angin membuat api mudah membakar dan kobarannya menyebar dengan cepat. Masyarakat diimbau untuk sering mengecek peralatan listrik di rumahnya masing-masing. Khususnya kabel usang yang kerap memicu korsleting.
‘’Jika memasak atau membakar sampah di pekarangan harus ditunggu, jangan sampai ditinggal,’’ ujarnya.
Imbauan Bimo cukup beralasan. Dua dari tiga laporan yang diterima kemarin merupakan kebakaran lahan. Pertama, lahan di pinggir tol Solo-Kertosonoe (Soker) Km 553 masuk Desa Sambirejo, Mantingan. Kedua, lahan jati dekat permukiman Desa/Kecamatan Bringin. Sedangkan satu laporan lainnya kebakaran rumah gereja di Jalan Ronggolawe, Kelurahan Pelem.
Bimo mengungkapkan, amukan si jago merah di pinggir tol dan Desa Bringin terjadi di waktu hampir bersamaan. Satu armada mobil damkar di pos barat diberangkatkan untuk memadamkan kebakaran lahan di pinggir tol.
Proses pemadamannya cukup genting menilik bahaya asap menghalangi pandangan pengguna tol. Sedangkan penanganan kebakaran di Desa Bringin mengerahkan dua armada dari pos induk. ‘’Penyebab kebakaran lahan diduga karena pembakaran sampah,’’ ucapnya.
Dia menambahkan, kebakaran rumah gereja di Jalan Ronggolawe diduga akibat korsleting listrik. Api berkobar dari balkon lantai dua bangunan yang ditempati pendeta dan pengurus gereja tersebut.
''Proses pemadaman cukup cepat dan api tidak sampai menjalar kemana-mana,'' ujarnya. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya