NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Pemkab Ngawi pasang kuda-kuda menghadapi potensi kebakaran hutan yang merajalela. Antisipasi dilakukan merujuk prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa puncak musim kemarau berlangsung bulan ini sampai Oktober nanti.
"Kami akan petakan kawasan hutan yang rawan kebakaran," kata Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono kemarin (11/9).
Ony menyampaikan bahwa kesiapsiagaan merupakan instruksi pemerintah pusat dan Pemprov Jawa Timur. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kemendagri, dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa kompak menekankan sinergi daerah dengan instansi vertikal.
Seperti TNI, Polri, Perhutani, dan relawan. Selain itu intens menyosialisasikan tindakan cepat penanganan kebakaran ke masyarakat.
''Misal terjadi kebakaran, dampaknya seminim mungkin," ujarnya.
Sebagian besar wilayah Ngawi merupakan kawasan hutan produksi dan lindung. Bila hutan dataran rendahnya melimpah pohon jati, di lereng Gunung Lawu terdapat banyak hutan pinus.
Pemkab patut siaga satu karena lereng Lawu sudah tiga kali terbakar dalam beberapa pekan terakhir. Yakni, hutan pinus seluas dua hektare di RPH Salam, KPH Perhutani Lawu DS.
Lalu, dua kali kebakaran hutan lindung di petak 39 dan 33 RPH Manyul. Total area yang terbakar seluas delapan hektare.
''Kebakaran bisa segera dipadamkan dan tidak meluas karena sinergi banyak pihak," ujarnya. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya