NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Gunung Lawu sisi utara dalam sepekan terakhir membuat sebagian warga di wilayah itu waswas.
Kebakaran di kawasan Gunung Lawu itu telah menghanguskan berbagai jenis tanaman. Seperti hutan pinus, cemara, akasia, ecaliptus. Selain itu, kebun kopi, cabai, dan teh.
''Warga berupaya ikut membantu dengan membuat ilaran, tapi juga jebol (terbakar, Red),'' kata Samidi, warga Desa Hargomulyo, Kecamatan Ngrambe, Ngawi.
Menurut Samidi, karhutla Gunung Lawu tahun ini terparah. Dirinya khawatir hutan lindung habis terbakar hingga memengaruhi ekosistem lingkungan.
Misalnya, satwa liar turun sampai permukiman dan ancaman berkurangnya sumber mata air karena hutan gundul.
''Sumber mata air terpusatnya dari gunung,'' ujarnya.
Sriyono, fungsional penata penanggulangan bencana ahli madya BPBD Jatim, menyampaikan bahwa proses pemadaman Gunung Lawu dilakukan hingga tuntas.
Bukan hanya wilayah Ngawi, melaikan juga Magetan dan Karanganyar, Jawa Tengah. Walau pelaksanaannya menemui banyak kendala.
Misalnya, tim darat yang kesulitan memadamkan api di titik kebakaran dengan ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Sedangkan water bombing terkendala angin kencang dan kabut.
''Jika dalam 14 hari belum padam, masa darurat yang dimulai 30 September lalu akan ditambah,'' ucapnya. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya