NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Keberadaan nyamuk Aedes aegypti coba diberantas. Dusun Sadang, Desa Karangtengah Prandon, Ngawi, di-fogging Jumat (1/12) kemarin.
Tujuannya cuma satu, agar kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Ngawi tidak meroket.
''Banyak genangan air saat perubahan panas ke hujan bisa menjadi sarang nyamuk berkembang biak,'' kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi Yudono.
Apa yang dilakukan itu berkaca pada kurva tahun 2022, dinkes setempat berupaya menekan kasus DBD.
Catatan dinkes, tahun lalu penyakit tersebut menunjukkan tren peningkatan mulai November hingga Januari.
Sementara, total terdapat 305 kasus periode Januari-November 2023. Dua di antaranya meninggal dunia.
''Daerah endemi DBD patut waspada,'' ujar Yudono.
Kasus DBD sering ditemukan dari kawasan perkotaan. Selama Januari-November 2023, Puskesmas Ngawi Purba menempati urutan tertinggi dengan 55 kasus DBD.
Disusul Puskesmas Ngawi dengan 24 kasus. Ratusan kasus DBD yang lain, tersebar di 22 puskesmas di kabupaten ini.
''Saat ada gejala bintik merah, mimisan, dan lain, segera ke fasilitas kesehatan. Jangan sampai terlambat,'' ungkapnya.
Yudono mengamini bahwa fogging merupakan pilihan terakhir penanganan DBD. Yang lebih penting adalah upaya menutup, menguras, mengubur, serta tindakan lain alias 3M plus.
Pun, pemberantasan sarang nyamuk. Kendati demikian, fogging tetap dilakukan untuk meminimalkan kasus DBD.
''Fogging cuma membunuh nyamuk dewasa,'' pungkasnya. (sae/den)
Editor : Budhi Prasetya