NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Coblosan berlangsung di tempat pemungutan suara (TPS) 08, Desa Watualang, Ngawi, Rabu (24/1) kemarin.
Semua unsur dalam pemungutan suara pada salah satu TPS di Ngawi itu menjalankan tugas masing-masing. Pun, hingga proses rekapitulasinya.
''Ini simulasi, dibuat semirip mungkin dengan kondisi sebenarnya,'' kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ngawi Prima Aequina Sulistyanti.
Baca Juga: 9.000 Lembar Surat Suara Rusak, Distribusi Logistik Tunggu Penggantian dari Vendor
Simulasi dilaksanakan untuk sejumlah tujuan. Termasuk, dalam rangka menghitung keperluan waktu dan mekanisme pergantian petugas KPPS.
Sebab, tidak ada waktu istirahat sholat makan (ishoma) saat pemungutan suara, penghitungan, hingga rekapitulasi.
"Perlu mekanisme yang terukur untuk pergantian antara tujuh petugas KPPS agar tidak kelelahan seperti dulu," ungkap Prima.
Baca Juga: 26 Hari Jelang Pemungutan Suara, KPU Ponorogo Gelar Simulasi Coblosan Lagi, PPK Didapuk Jadi KPPS
Simulasi juga bermaksud untuk menakar kemampuan teknis petugas KPPS. Pun, mengidentifikasi persoalan selama proses pemungutan suara, penghitungan, hingga rekapitulasi.
Termasuk untuk sosialisasi suara sah atau tidak,
''Simulasi menggunakan surat simulasi bukan spesimen, gambar dan nama tidak persis yang asli,'' tuturnya.
Wabup Ngawi Dwi Rianto Jatmiko menilai, simulasi penting dilakukan. Agar penyelenggara pemilu di tingkat paling bawah benar-benar siap melayani pemilih.
Sebab, pemilu serentak dengan lima surat suara cukup sulit. "Kami menghimbau KPU membangun sinergitas dengan pemerintah daerah, penyelenggara pemilu lainnya, serta TNI-Polri untuk benar-benar siap," ungkap wabup. (sae/den)
Editor : Budhi Prasetya