NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Rencana regrouping SD terus dimatangkan. Penggabungan dua sekolah menjadi satu itu tak boleh dilakukan sembarangan.
Ini bertujuan agar roda pendidikan berjalan normal dan tidak memberatkan masyarakat Ngawi.
"Saat ini masih tahapan perencanaan untuk regrouping,’’ kata Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Ngawi Samirun, Minggu (17/3).
Samirun mengungkapkan, pihaknya telah selesai melakukan identifikasi sekolah yang berpotensi untuk dilebur.
"Berdasarkan data, hingga saat ini ada 10 SD yang masih satu halaman,’’ ujarnya.
Rencana regrouping menguat karena jumlah murid sejumlah SD di Ngawi semakin berkurang.
Hal itu imbas dari jumlah lulusan TK setiap tahun berkurang. Tak ayal, dikbud setempat berencana mengefisiensikan lembaga pendidikan.
Trend pertumbuhan populasi yang menunjukkan angka penurunan dituding menjadi sebab dibalik sejumlah SD kekurangan peserta didik.
"Penurunan jumlah populasi menjadi faktor utama pendaftar SD yang semakin berkurang,’’ ungkap Samirun.
Sekadar diketahui, ada beberapa tahapan dalam regrouping. Dimulai dengan perencanaan untuk memutuskan berapa jumlah sekolah yang dilebur.
Kemudian, memastikan anak didik mendapatkan sekolah. Lalu mendistribusikan semua guru dan kepala sekolah pada lembaga yang membutuhkan.
"Juga perlu mengidentifikasi aset-aset daerah, mulai gedung, peralatan, dan lainnya,’’ ujarnya. (sae/den)
Editor : Budhi Prasetya