NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Harga beras di pasaran menggelitik rasa penasaran pihak kepolisian.
Ini lantaran harga beras yang cenderung bertahan dibanderol Rp 13,5 hingga Rp 14 ribu per kilogram.
Kondisi beberapa pekan terakhir itu tak pelak mengundang tanya Satgas Pangan Polres Ngawi.
Tak heran jika mereka pasang mata dan telinga terhadap potensi praktik penimbunan di wilayah kerjanya.
Satgas pangan pun menginspeksi sejumlah toko pedagang beras, gudang gabah, dan penggilingan gabah, Selasa (26/3) kemarin.
"Sejauh ini tidak ditemukan penimbunan meski harga beras premium di pasaran masih cukup mahal,’’ kata Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Joshua Peter Krisnawan.
Tim satgas pangan berfokus mengecek toko grosir dan eceran beras di Pasar Besar Ngawi.
Mereka menggali data mengenai pasokan barang saat Ramadan hingga menjelang Lebaran.
Tak hanya itu, tim satgas pangan juga mengecek gudang Bulog untuk memastikan kecukupan stok beras.
"Kami akan terus melakukan operasi guna memastikan tidak ada praktik penimbunan,’’ ujarnya.
Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi Supardi, harga beras sudah berangsur turun.
Dari yang sebelumnya di kisaran harga Rp 17 ribu per kilogram. Turunnya harga beras tersebut karena memasuki panen raya padi.
"Harga beras sudah turun meski belum signifikan,’’ ucapnya.
Supardi menambahkan, harga gabah kering panen (GKP) turun sekitar Rp 3 ribu dari sebelumnya mencapai Rp 9 ribu per kilogram.
"Dengan GKP Rp 6 ribu per kilogram, petani untung tipis,’’ ujarnya. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya